Apa yang Dimaksud September Hitam? Begini Penjelasan dan Tragedinya

Aktivis HAM Munir Said Thalib (Wikipedia)
Aktivis HAM Munir Said Thalib (Wikipedia)

Blok-a.com – Bulan September sering diingat sebagai bulan penuh peristiwa duka di Indonesia. Sejak awal kemerdekaan hingga era Reformasi, terjadi sejumlah tragedi pelanggaran hak asasi manusia (HAM) pada bulan September. Karena itulah, bulan ini mendapat julukan September Hitam. Sementara lembaga dan aktivis HAM menyebut September sebagai “bulan kelam demokrasi”.

Berdasarkan catatan Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan (KontraS), sebagian besar kasus pelanggaran HAM yang terjadi di bulan ini belum pernah diselesaikan secara tuntas. Dari kudeta politik, penembakan terhadap warga sipil, hingga pembunuhan aktivis, semuanya menyisakan jejak luka mendalam.

Berikut beberapa peristiwa penting yang hingga kini masih dikenang sebagai bagian dari September Hitam.

G30S 1965

Peristiwa pelanggaran HAM besar yang menjadi rujukan julukan September Hitam adalah Gerakan 30 September 1965. Sejarah mencatat terjadinya kudeta terhadap pemerintahan Presiden Soekarno, yang dituduhkan kepada Partai Komunis Indonesia (PKI).

Peristiwa ini menewaskan enam jenderal dan satu perwira TNI AD. Kemudian diikuti gelombang kekerasan dan pembantaian terhadap mereka yang dituduh memiliki afiliasi dengan PKI.

Sejarawan memperkirakan sebanyak ratusan ribu hingga lebih dari satu juta orang menjadi korban pembunuhan, penahanan tanpa proses hukum, atau pengasingan. Amnesty International menyebutnya sebagai salah satu tragedi kemanusiaan terbesar di Asia pada abad ke-20.

Tragedi Tanjung Priok 1984

Tragedi Tanjung Priok terjadi pada 12 September 1984. Berawal dari media protes di Masjid As Saadah di Tanjung Priok yang dicopot paksa oleh aparat. Beberapa jemaah masjid balas membakar kendaraan aparat, hingga  kemudian ditangkap. Lalu, sekelompok warga dan jemaah masjid lainnya mendemo Komando Distrik Militer (Kodim) Jakarta Utara, tempat jemaah pembakar kendaraan ditahan.

Sayangnya, kedua pihak tidak menemukan kesepakatan, hingga terjadi kerusuhan dan puncaknya, aparat militer menembaki massa yang berunjuk rasa. Versi pemerintah menyebut hanya puluhan korban jiwa, namun laporan berbagai lembaga independen dan kesaksian keluarga korban memperkirakan ratusan orang tewas atau hilang. Komnas HAM kemudian menetapkan peristiwa ini sebagai pelanggaran HAM berat.

Tragedi Semanggi II 1999

Pada 24 September 1999, mahasiswa turun ke jalan menolak Rancangan Undang-Undang Penanggulangan Keadaan Bahaya. Namun, aksi yang awalnya damai berubah ricuh ketika aparat melakukan tindakan represif.

Sedikitnya 11 orang, termasuk mahasiswa dan warga sipil, meninggal dunia. Tanggal ini kini diperingati sebagai Hari Tani Nasional, sekaligus menjadi pengingat bahwa perjuangan demokrasi di Indonesia seringkali dibayar dengan nyawa.

Pembunuhan Munir 2004

Tepat 7 September 2004, Munir Said Thalib, aktivis HAM, dibunuh dengan racun arsenik dalam penerbangan menuju Amsterdam. Ia dikenal vokal membela korban pelanggaran di Timor Timur, Tanjung Priok, dan kasus penghilangan orang 1998.

Kasus Munir memicu kecaman internasional. Amnesty International hingga kini menilai kasus ini sebagai ujian serius bagi komitmen Indonesia terhadap keadilan. Meskipun beberapa pelaku lapangan diproses hukum, dalang utama pembunuhan Munir belum pernah benar-benar terungkap.

Aksi “Reformasi Dikorupsi” 2019

Gelombang protes mahasiswa kembali terjadi pada September 2019. Ribuan mahasiswa turun ke jalan menolak revisi UU KPK dan RKUHP. Aksi ini memakan korban jiwa, yakni dua mahasiswa Universitas Halu Oleo, Kendari yang meninggal dunia akibat luka tembak, sementara puluhan lainnya terluka.

Tragedi ini menjadi bukti bahwa perjuangan menegakkan demokrasi dan hukum di Indonesia masih penuh risiko, bahkan di era Reformasi sekalipun. (mg2/gni)

Penulis: Muhammad Naufal Abiyyu (mahasiswa magang UTM Bangkalan)

Exit mobile version