5 Kejanggalan dalam Analisis Keaslian Ijazah Jokowi Menurut Rismon

Blok-a.com – Ahli forensik digital, Rismon Sianipar, menilai ada sejumlah kejanggalan dalam proses pemeriksaan keaslian ijazah Presiden ke-7 Republik Indonesia, Joko Widodo, yang dilakukan oleh Bareskrim Polri.

Sebelumnya, pada Kamis (23/5/2025), Bareskrim mengumumkan bahwa ijazah Jokowi dinyatakan asli.

Hasil tersebut diperoleh dari pengujian laboratorium yang membandingkan ijazah Jokowi dengan tiga ijazah milik rekan seangkatannya di Fakultas Kehutanan Universitas Gadjah Mada (UGM), dari tahun 1980 hingga lulus pada 1985.

Pengujian dilakukan terhadap berbagai elemen seperti bahan kertas, pengaman kertas, teknik cetak, tinta tulisan tangan, cap stempel, dan tanda tangan pejabat kampus saat itu.

Dari hasil pengujian tersebut, pihak kepolisian menyimpulkan bahwa dokumen-dokumen itu identik.

Namun, hasil tersebut diragukan oleh Rismon karena ia menilai proses analisis yang dilakukan tidak sepenuhnya wajar. Dalam pernyataannya di podcast kanal YouTube Refly Harun, Rismon mengungkapkan sejumlah kejanggalan berikut:

Hasil Analisis Identik Bukan Otentik

Rismon mempertanyakan istilah “identik” yang digunakan oleh Bareskrim dalam menyimpulkan keaslian ijazah Jokowi. Dokumen yang identik hanya berarti mirip secara fisik, tapi belum tentu otentik atau asli.

Menurutnya, kesamaan tampilan fisik tidak bisa diartikan sebagai bukti keaslian, terutama jika pembanding yang digunakan belum terlebih dahulu dipastikan otentikasinya secara ilmiah.

“Yang saya tonton dari keterangan Dittipidum Bareskrim itu selalu mengulangi kata identik. Kalau kita bicara identik, maka dia butuh pembanding, ya kan?,” kata Rismon.

“Nah pertanyaannya, pembandingnya itu diuji enggak otentikasinya? Jadi, kalau identik bukan berarti dia otentik asli. Kalau otentik bahasa Indonesianya asli, kalau identik ya identik saja, artinya objek A sama dengan objek B,” sambungnya.

Ijazah Pembanding Tidak Dijelaskan

Rismon juga mempertanyakan mengapa Bareskrim tidak menyebutkan secara jelas siapa pemilik ijazah pembanding yang digunakan.

Menurut Rismon, ini penting. Jika ijazah pembandingnya tidak jelas, tidak bisa dipastikan apakah perbandingan yang dilakukan sudah benar.

“Pertanyaannya objek B sebagai referensi itu otentik nggak? Dan tidak disebutkan juga ijazah siapa yang menjadi perbandingan itu,” ungkap Rismon

Ia juga menilai bahwa dokumen pembanding sebaiknya diambil secara acak dari arsip UGM, bukan dari orang-orang yang dekat dengan Presiden.

“Harusnya secara random dong diambil (sebagai pembanding ijazah Jokowi) bukan orang yang menyediakan atau yang selama ini dikenal ‘guide hard-nya’ Joko Widodo. Jadi menurut saya tidak bernilai sih hari ini, apa yang kita tunggu-tunggu harusnya kajian ilmiah,” jelasnya.

Tidak Ada Analisis Ilmiah

Selanjutnya, Rismon menilai bahwa Bareskrim tidak menggunakan metode ilmiah yang bisa membuktikan umur dokumen secara akurat, seperti carbon dating untuk usia kertas atau ink dating untuk jenis atau usia tinta. Padahal, metode ini umum digunakan untuk menguji dokumen lama.

“Harus ada uji yang lain, otentikasi, yang kita inginkan adalah carbon dating analysis, tekstur kertas tahun itu bagaimana. Terus ink dating analisis penanggalan tinta itu kan hal mudah dilakukan, jenis tinta juga bisa dilakukan. Itu kan tidak kita dengar hari ini, malah dibandingkan dengan referensi lain yang tidak kita tahu,” kata Rismon.

Warna Kertas Berbeda

Rismon juga memperhatikan perbedaan warna antara dokumen-dokumen yang diklaim dari masa yang sama. Ada dokumen yang kertasnya sudah buram dan kekuningan seperti dokumen lama, tapi ada juga yang putih bersih seperti baru.

“Ada sejumlah kertas yang warnanya sudah buram dan kekuning-kuningan seperti sudah terdekomposisi, tetapi ada sejumlah surat atau berkas yang disita itu benar benar putih, bagaimana itu?,” tanya Rismon.

Ia menyebut bahwa perbedaan seperti ini bisa jadi tanda bahwa dokumen tidak berasal dari periode yang sama. Sayangnya, menurutnya, perbedaan ini tidak dijelaskan oleh Bareskrim.

“Dan tidak dijelaskan bagaimana mereka melakukan uji keidentikan, apa lewat mata, algoritmik atau secara digital, enggak ada penjelasan ilmiah apapun,” sambungnya.

Kerapihan Dokumen Skripsi

Kejanggalan lain yang dilihat Rismon adalah lembar pengesahan skripsi Jokowi yang terlalu rapi. Ia mengatakan bahwa hasil cetakan seperti itu tidak bisa dibuat dengan mesin cetak manual (handpress) yang umum dipakai pada tahun 1980-an.

“Yang lucu adalah lembar pengesahan skripsi tersebut itu adalah produk dari handpress tanpa menjelaskan bagaimana rekonstruksi menggunakan handpress tahun 1985 menghasilkan sebuah lembar pengesahan yang sekarang saja sama dengan itu. Rapi kali,” ujar Rismon.

Rismon bahkan mencoba merekonstruksi halaman itu dengan Microsoft Word, dan hasilnya sangat mirip. Menurutnya, ini menunjukkan bahwa lembar itu kemungkinan dibuat dengan teknologi modern, bukan teknologi tahun 1980-an.

“Itu kan ada ‘dipertahankan di depan dewan penguji’. Coba perhatikan kerapatan dari titik-titik itu, itu produk dari handpress enggak? enggak logis,” ungkap Rismon.

“Kalau produk dari handpress dengan kerapatan semacam itu, itu menjadi garis,” lanjutnya.

“Itu enggak bisa dijelaskan, ya karena memang tidak ada teknologi zaman itu secantik itu. Ketika kita rekonstruksi pakai microsoft word sekarang, sama loh dengan itu,” tutupnya. (hen)

Exit mobile version