5 Kawanan Sindikat Pemalsu Sertifikat Tanah Diringkus Polres Magetan

Polisi amankan kelima pelaku beserta barang bukti.(dok. hms polres for blok-a.com)
Polisi amankan kelima pelaku beserta barang bukti.(dok. hms polres for blok-a.com)

Magetan, blok-a.com – Satuan Reserse Kriminal (Satreskrim) Polres Magetan, Polda Jawa Timur berhasil mengamankan 5 dari 7 tersangka mafia tanah yang merugikan ratusan juta rupiah di Magetan.

Kelimanya tersangka itu adalah SRN, PW, DRA, AS dan THW. Komplotan terduga mafia tanah ini berhasil diamankan di salah satu kantor PPATK (notaris) usai dijebak Polisi.

Kapolres Magetan AKBP Muhammad Ridwan melalui Kasat Reskrim AKP Rudy Hidajanto memaparkan bahwasanya masing-masing pelaku mempunyai peran yang berbeda-beda.

Menurutnya, SRN dan PW berperan merencanakan proses jual beli tanah. DRA mengaku sebagai keponakan dari pemilik tanah dan yang menerima pembayaran dari pembeli.

“THW sebagai suami pemilik tanah (AS) dan mengajak AS, yang juga pemilik tanah menyerahkan sertifikat palsu kepada notaris, serta menerima pembayaran pertama dari korban atau pembeli,” ujar AKP Rudy, Kamis (28/9/2023).

AKP Rudy juga menjelaskan, modus para tersangka bermula dari SRN, mendatangi pemilik tanah yang akan dijual dan ingin membeli di wilayah Desa Bagi, Kecamatan/Kabupaten Madiun.

Selanjutnya SRN meminjam SHM, KTP dan KK pemilik tanah untuk difoto dengan alasan akan dilakukan pengecekan ke notaris terlebih dahulu.

“Setelah itu memesan SHM dan KTP palsu atas nama pemilik tanah yang dipasang foto THW dan AS, seakan- akan sebagai pemilik tanah melalui media sosial,” bebernya.

Kemudian SRN menawarkan tanah tersebut kepada korban dengan mengirimkan hasil scan dari foto SHM. Sehingga pada saat dilakukan pengecekan awal secara online di BPN Madiun, scan SHM asli dan lolos.

Korban yang akhirnya percaya dengan SHM atau berkas kepemilikan tanah itu, lantas menyerahkan uang kepada tersangka sebanyak 3 kali, dari tanggal 1 hingga 13 September 2023.

“Korban baru membayar sebesar Rp750.000.000. Sebelumnya mereka sepakat dengan nilai harga Rp1,5 miliar,” ungkapnya.

Terungkapnya kejahatan tersebut, lanjut Kasat Reskrim berawal dari korban yang memeriksakan sertifikat tanah yang dibeli, kepada Notaris.

“Kemudian oleh Notaris diperiksa ke BPN, dan oleh BPN sertifikat tersebut dinyatakan bukan produknya. Kemudian korban melapor kepada kami,”pungkas AKP Rudy.

Dari tangan tersangka polisi menyita dokumen penting, terkait bukti pembelian tanah, kartu ATM, NPWP, Smartphone, uang tunai, 1 unit motor R2 hasil kejahatan.

Kelima tersangka dijerat dengan sangkaan menggunakan akte yang isinya seolah-olah cocok dengan sebenarnya dan atau penipuan, sebagaimana pasal 264 ayat 2 KUHP dan atau 378 KUHP, dengan ancaman hukuman 8 tahun penjara.(sya/lio)

Kirim pesan
Butuh bantuan?
Hai, apa kabar?
Apa yang bisa kami bantu?