Spirometri, Kunci Deteksi Dini Asma dan Penyakit Paru

Dr. Spesialis Paru RSUD Genteng, dr. Mariyatul Khiptyah, Sp.P., saat melakukan pemeriksaan spirometri pada pasien, Rabu (26/11/2025). (dok Humas RSUD untuk blok-a.com)
Dr. Spesialis Paru RSUD Genteng, dr. Mariyatul Khiptyah, Sp.P., saat melakukan pemeriksaan spirometri pada pasien, Rabu (26/11/2025). (dok Humas RSUD untuk blok-a.com)

Banyuwangi, blok-a.com – Asma merupakan penyakit tidak menular yang ditandai dengan peradangan saluran napas serta penyempitan saluran udara kecil di paru-paru. Untuk mendiagnosis gangguan pernapasan dan memantau efektivitas pengobatan, tim medis biasanya melakukan tes fungsi paru atau spirometri.

Spirometri adalah teknik pemeriksaan yang mengukur volume dan kecepatan aliran udara yang dihirup dan diembuskan oleh pasien.

Dokter Spesialis Paru RSUD Genteng, dr. Mariyatul Khiptyah, Sp.P., menjelaskan bahwa spirometri merupakan salah satu tes fungsi paru terbaik dan paling sering digunakan.

“Alat yang digunakan dalam melakukan tes disebut spirometer, yang hasilnya akan tampak dalam bentuk grafik,” ungkapnya kepada blok-a.com, Rabu (26/11/2025).

Ia menambahkan, spirometri mampu mendeteksi penyakit paru pada tahap sangat awal, bahkan sebelum gejala muncul dengan jelas.

Pemeriksaan ini juga berfungsi memantau perkembangan penyakit dan menentukan tingkat keparahannya. Selain asma, spirometri dapat membantu mendiagnosis beberapa kondisi berikut:

  • Bronkitis kronis, yaitu peradangan saluran bronkial yang membawa udara ke paru-paru.
  • Fibrosis paru, yaitu terbentuknya jaringan parut yang mengganggu fungsi paru.
  • Emfisema, yaitu kerusakan bertahap pada kantung udara paru yang membuat napas menjadi pendek.

“Spirometer selain dipergunakan saat pasien mengeluhkan gangguan pernapasan, seperti asma, batuk, atau produksi lendir berlebih, juga memantau fungsi paru, menilai perkembangan penyakit, dan mengevaluasi efektivitas pengobatan,” jelas dr. Mariyatul.

Sebelum pemeriksaan dilakukan, dokter akan menilai gejala yang dirasakan pasien seperti sesak napas, nyeri dada, atau mengi.

“Jika gejala mengarah pada asma, pemeriksaan fisik akan dilakukan, lalu diikuti dengan tes spirometri,” imbuhnya.

Ia juga menyarankan penderita asma menjalani spirometri secara rutin minimal setahun sekali untuk memantau fungsi paru dan efektivitas terapi.

“Dengan demikian, dokter dapat menyesuaikan terapi dan meningkatkan kualitas hidup penderita asma,” tutup dr. Mariyatul Khiptyah.(kur/lio)

Baca berita ter-update di Google News Blok-a.com dan saluran Whatsapp Blok-a.com