Mengenal Kondisi Fetish, Tergolong Normal Atau Abnormal?

images (5)

Blok-a.com – Istilah fetish atau gangguan kesehatan seksual belakangan ini ramai diperbincangkan oleh warganet di media sosial. Lantas apakah kondisi tersebut bisa dikatakan normal? Untuk mengetahuinya, simak artikel berikut ini.

Fetish merupakan kondisi dimana seseorang melakukan hal-hal tertentu untuk memuaskan hasrat nafsunya. Pada dasarnya fetish bisa berupa tindakan atau bahkan barang-barang yang bisa membuat nafsu dan bergairah.

Barang-barang yang menjadi objek fetish pun beraneka ragam. Namun, yang paling umum disukai ialah, sepatu, stocking, hingga pakaian dalam.

Lantas apakah itu normal?

Pada dasarnya, fetish merupakan hal yang biasa terjadi dan dalam banyak kasus tidak berbahaya. Kondisi ini hanya bisa diperlakukan sebagai gangguan jika menyebabkan kesusahan atau mengganggu kemampuan seseorang untuk berfungsi secara normal dalam kehidupan sehari-hari.

Bentuk Fetish

Bentuk fetish satu orang dengan orang lain bisa berbeda-beda. Jenis fetish dapat dikategorikan sebagai berikut:

Fetish Bentuk

Seseorang yang memiliki fetish bentuk akan terangsang dengan bentuk benda, seperti patung, sepatu hak tinggi, payung, atau kacamata.

Fetish Bahan

Selain bentuk, seseorang juga bisa terangsang hanya dengan bahan tertentu, misalnya bahan sutra, karet, kulit, kain jarik, dan sebagainya.

Fetish Situasi

Jenis fetish lainnya adalah fetish situasi, yaitu seseorang dapat terangsang dengan melihat gambaran kondisi atau menjalani aktivitas tertentu seperti bondage, discipline, slavery, atau masochism (BDSM).

Penyebab Fetish

Fetish biasanya berkembang dengan timbulnya pubertas. Beberapa ahli teori percaya bahwa fetisisme muncul karena asosiasi objek atau bagian tubuh dengan pengalaman awal seseorang tentang gairah seksual atau masturbasi. Belum ada bukti konklusif mengenai apa yang menyebabkan atau memicu fetish disorder.

Gejala Fetish

  • Dorongan seksual, imajinasi, dan perilaku tertentu menyebabkan kegelisahan dan terganggunya aktivitas sehari-hari.
  • Mengalami gairah seksual terhadap benda mati atau bagian-bagian tubuh non seksual secara intens dan berulang-ulang selama kurang lebih enam bulan yang dimanifestasikan melalui dorongan seksual, imajinasi, dan perilaku tertentu ketika melihatnya.
  • Objek fetish tidak sebatas pakaian yang digunakan dalam crossdressing (seperti pada gangguan transvestik) atau alat khusus untuk menstimulasi kelamin, seperti vibrator.

Pengobatan

Gangguan fetish biasanya cenderung berfluktuasi atau naik turun selama hidup seseorang. Sehingga pengobatan yang paling efektif dilakukan adalah pengobatan jangka panjang. Pendekatan yang berhasil mencakup berbagai bentuk terapi serta terapi pengobatan (seperti SSRI atau terapi deprivasi androgen).

Beberapa obat resep dapat membantu mengurangi pemikiran kompulsif yang terkait dengan gangguan fetishistik. Pada pasien dengan gangguan yang lebih sedikit biasanya bisa melakukan fokus pada terapi konseling.

(hen)

Exit mobile version