Influenza Subclade K Jadi Sorotan, RSUD Genteng Pastikan Belum Ada Temuan Kasus

Caption : foto, Ilustrasi CTD Insider
Caption : foto, Ilustrasi CTD Insider

Banyuwangi, blok-a.com – Menyikapi temuan kasus Influenza A (H3N2) subclade K, atau yang lebih dikenal dengan Superflu, yang akhir-akhir ini marak terjadi, masyarakat diimbau tetap tenang tetapi waspada. Hingga saat ini Kementerian Kesehatan RI telah melaporkan bahwa sebanyak 62 temuan kasus terjadi di Indonesia.

Dokter Spesialis Paru Konsultan, RSUD Genteng, dr. Dian Retnowati, Sp.P(K), menjelaskan bahwa kemunculan subclade K merupakan bagian dari proses alami yang disebut antigenic drift, yaitu perubahan kecil pada virus influenza yang rutin terjadi setiap musim.

Menurutnya, subclade K bukanlah virus baru maupun penyebab pandemi, melainkan subkelompok dari virus influenza A (H3N2) yang selama ini beredar secara musiman. Sementara sampai saat ini, RSUD Genteng juga belum ada temuan terkait kasus tersebut.

“Subclade K adalah bagian dari H3N2 yang sudah lama dikenal. Ini bukan virus baru dan bukan influenza pandemi,” tegas dr. Dian, Selasa (6/1/2026).

Meskipun akhir-akhir ini subclade K menjadi varian dominan pada kasus influenza di Amerika Serikat, namun belum ada bukti ilmiah yang menunjukkan peningkatan virulensi atau tingkat keparahan penyakit dibandingkan varian H3N2 lainnya.

Terkait vaksinasi, lanjut dr. Dian, bahwa vaksin influenza masih efektif memberikan perlindungan, terutama terhadap penyakit berat. Data menunjukkan efektivitas vaksin berkisar 32–39 persen pada orang dewasa dan 72–75 persen pada anak dan remaja, sebanding dengan musim influenza H3N2 sebelumnya.

“Vaksinasi influenza tetap sangat dianjurkan, khususnya bagi kelompok berisiko seperti lansia, penderita penyakit penyerta, dan tenaga kesehatan,” sambungnya.

Dr. Dian menambahkan, istilah “superflu” bukanlah istilah medis, namun lebih banyak digunakan oleh media. Meski demikian, kewaspadaan tetap diperlukan karena influenza dapat berdampak lebih berat pada kelompok rentan.

“Oleh sebab itu masyarakat diharapkan tetap waspada serta melakukan langkah pencegahan. Selain itu, jangan mudah terpengaruh oleh informasi yang belum terverifikasi. Edukasi yang tepat jauh lebih penting daripada kepanikan,” tutupnya.

 

Exit mobile version