792 Pelajar SD di Banyuwangi Terindikasi Perokok Aktif

Ilustrasi remaja perokok.(BBC/Romeo Gacad)
Ilustrasi remaja perokok.(BBC/Romeo Gacad)

Banyuwangi, blok-a.com – Ratusan pelajar Sekolah Dasar (SD) hingga Sekolah Menengah Atas (SMA) di Kabupaten Banyuwangi teridentifikasi sebagai perokok aktif.

Hal ini terungkap setelah dilakukan pemeriksaan kesehatan gratis pada salah satu program yang dicanangkan Presiden Prabowo Subianto, bagi anak hingga remaja usia 7-18 tahun, yang menyasar sebanyak 44.917 siswa.

Di Banyuwangi sendiri, program tersebut ditargetkan menjangkau 184.771 pelajar mulai SD hingga SMA. Baik sekolah negeri, swasta, maupun di lingkungan pondok pesantren.

Plt. Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Banyuwangi, Amir Hidayat mengungkapkan, dari 35.372 pelajar SD yang telah diperiksa, sekitar 2,2 persen atau 792 di antaranya terindikasi perokok aktif.

Hal itu dibuktikan dengan pengakuan siswa dan diperkuat dengan penggunaan alat Smokerlyzer, pendeteksi kadar karbon monoksida (CO) dalam napas, yang berfungsi untuk menilai tingkat paparan asap rokok atau perokok aktif.

“Perbandinganya seperti dari 100 orang itu ada 2 sampai 3 orang yang perokok,” ujar Amir saat dikonfirmasi pada Rabu (27/08/2025).

Sedangkan untuk pelajar SMP, dari 8.292 yang diperiksa, 425 atau 5,1 persen terindentifikasi perokok aktif. Jadi jika dibandingkan dari 20 orang, ada 1 anak telah menjadi perokok aktif.

Di tingkat SMA, dari 1.253 pelajar yang telah diperiksa, ditemukan 179 anak atau 14,3 persen perokok aktif. Perhitungannya adalah setiap 10 orang itu ada 1 sampai 2 anak yang merokok.

“Setelah dia mengaku dan dicek menggunakan Smokerlyzer, terlihat memang ada nikotin di paru-parunya,” paparnya

Amir menyebut, motif pelajar mencoba merokok beragam, mulai dari ikut-ikutan teman hingga pelarian dari stres. Mirisnya, sekitar 30 persen siswa mengaku merokok karena meniru orang yang mereka hormati.

“Seperti gurunya, ustadnya, hingga orang tuanya. Kurang lebih 30 persen alasan dari pelajar tersebut adalah ikut-ikutan orang yang dihormatinya,” ungkapnya.

Guna menekan angka perokok di kalangan pelajar, Dinkes menggencarkan Gerakan Sekolah Sehat (GSS), sebuah program yang bertujuan membentuk budaya hidup sehat di lingkungan sekolah melalui lima pilar sehat seperti makanan bergizi, fisik, imunisasi, jiwa, dan lingkungan dengan diimplementasikannya pada program Sekolah Asuh Sehati (SAS).

Upaya lainnya yakni dengan memasifkan Komunikasi, Informasi dan Edukasi (KIE) kepada guru. Dinkes juga menunjuk Stikes Banyuwangi dengan didampingi oleh tim dari Universitas Indonesia (UI) untuk merumuskan Peraturan Daerah (Perda) tentang Kawasan Tanpa Rokok (KTR).

“Jadi nanti di sekolah, di kantor, di ruang publik tidak boleh ada aktivitas merokok, dan akan disediakan secara khusus ruang untuk merokok,” terangnya.

Amir berpesan, agar guru dan orang tua untuk terus mengawasi anaknya. Pihaknya meminta supaya menjadi role model yang baik bagi siswa atau anaknya.

“Buatlah lingkungan yang baik untuk anak, dah jauhkan dari lingkungan yang memiliki pengaruh kurang baik terhadap anak,” imbau Amir.(kur/lio)

Exit mobile version