Warga di Gresik Rogoh Kocek Ratusan Juta Hias Kampung untuk Meriahkan Agustusan

Dusun Biyodo, Desa Beton, Kecamatan Menganti, Gresik, menghias kampung menjadi miniatur ikon kota di Indonesia, tokoh proklamasi, dan burung garuda. (blok-a.com/Ivan)
Dusun Biyodo, Desa Beton, Kecamatan Menganti, Gresik, menghias kampung menjadi miniatur ikon kota di Indonesia, tokoh proklamasi, dan burung garuda. (blok-a.com/Ivan)

Gresik, blok-a.com – Agustusan menjadi momentum masyarakat untuk berlomba-lomba menghias kampung atau memasang pernak-pernik khas peringatan Hari Kemerdekaan. Seperti yang terlihat di Dusun Biyodo, Desa Beton, Kecamatan Menganti, Gresik.

Menjelang peringatan Hari Kemerdekaan RI ke-80 ini, masyarakat menghias kampung dengan lampu warna-warni dan merangkai menjadi beberapa miniatur ikon kota di Indonesia, tokoh proklamasi, dan burung garuda.

Masyarakat Dusun Biyodo yang terdiri dari empat RT ini membuat miniatur lampu warna-warni dengan konsep yang berbeda-beda. Dananya merupakan swadaya masyarakat empat RT yang jumlahnya total mencapai ratusan juta rupiah.

Menghias kampung saat Agustusan di Dusun Biyodo ini memang merupakan tradisi tahunan. Namun, di tahun ini, Dusun Biyodo diminati banyak pengunjung dari luar dusun untuk sekedar foto-foto ataupun berwisata kuliner.

Dusun Biyodo, Desa Beton, Kecamatan Menganti, Gresik, menghias kampung menjadi miniatur ikon kota di Indonesia, tokoh proklamasi, dan burung garuda. (blok-a.com/Ivan)
Dusun Biyodo, Desa Beton, Kecamatan Menganti, Gresik, menghias kampung menjadi miniatur ikon kota di Indonesia, tokoh proklamasi, dan burung garuda. (blok-a.com/Ivan)

Di sini, masyarakat Dusun Biyodo diberikan keleluasaan untuk berjualan. Dengan tujuan meningkatkan perekonomian masyarakat dengan adanya kampung hias Dusun Biyodo ini.

Kepala Dusun Biyodo, Abdul Kohar, mengatakan bahwa tema yang diambil dalam kampung hias lampu warna warni ini kota lama Indonesia. Menghadirkan beberapa ikon kota di Indonesia, dan beberapa karya warga merupakan bentuk persatuan warga di tengah perbedaan suku, ras, dan agama.

“Tema tahun ini merupakan Kota lama Indonesia. Ada miniatur Jembatan Suramadu, Burung Garuda, tembok pertahanan burung garuda, monumen Bung Karno, biasanya seperti membawa kita kembali ke Kota Lama. Miniatur yang dibangun disini merupakan bentuk persatuan warga Dusun Biyodo ditengah perbedaan suku, ras, dan agama yang ada disini,” ungkapnya, Minggu (10/8/2025).

Kohar menyampaikan bahwa sumber dana yang digunakan untuk membangun miniatur dan lampu warna merah warni yang melingkar di setiap miniatur merupakan hasil dari swadaya masyarakat Dusun Biyodo.

“Sumber dana yang digunakan untuk untuk membangun miniatur dan lampu warna warni ini ini merupakan hasil dari swadaya masyarakat yaitu per rumah menabung sebesar 400-500 ribu yang bisa dicicil selama satu tahun atau dari setelah Agustus dan sebelum Agustus tahun depannya,” jelasnya.

Salah satu pengagas miniatur Garuda yang ada di Dusun Biyodo ini, Suparlan, menyampaikan bahwa membutuhkan waktu 1 bulan untuk membuat Garuda dari anyaman rotan ini.

“Butuh waktu 1 bulan untuk membuat miniatur Garuda dari anyaman rotan ini. Konsep konsep miniatur dari RT lain juga hampir sama waktu pengerjaannya,” ujarnya.

Alasan mengambil burung Garuda ini sebagai miniatur konsep di RT 14 ini yaitu merupakan bentuk atau lambang persatuan karena perbedaan suku, ras, dan agama yang dapat menyatukan masyarakat.

“Burung Garuda dipilih karena di RT 14 ini punya masyarakat dengan agama yang berbeda-beda, mulai dari Islam, Hindu, dan Kristen. Ini bentuk persatuan kami agar hidup tentram dan damai,” pungkasnya.(ivn/lio)

Baca berita ter-update di Google News Blok-a.com dan saluran Whatsapp Blok-a.com