Potensi Perbedaan Penentuan 1 Syawal 1447 H, Ikut Hisab atau Tunggu Hasil Sidang Isbat?

Salat Idul Fitri di Pelataran Gereja Kayutangan, Senin (31/3/2025) (dok. Mahasiswa Magang Unitri, Inok Jehalu)
Salat Idul Fitri di Pelataran Gereja Kayutangan, Senin (31/3/2025) (dok. Mahasiswa Magang Unitri, Inok Jehalu)

Blok-a.com – Masyarakat muslim di Indonesia tampaknya harus bersiap menghadapi potensi perbedaan hari perayaan Idulfitri 1 Syawal 1447 Hijriah tahun ini. Meski pemerintah belum memberikan keputusan final, sejumlah prediksi menunjukkan adanya perbedaan tanggal antara versi pemerintah dan Muhammadiyah.

Berdasarkan data kalender astronomi, Muhammadiyah melalui Maklumat Pimpinan Pusat telah jauh-jauh hari menetapkan Lebaran jatuh pada Jumat, 20 Maret 2026. Penetapan ini menggunakan metode Kalender Hijriah Global Tunggal (KHGT) yang sudah diadopsi oleh organisasi tersebut.

Di sisi lain, Kementerian Agama (Kemenag) melalui prediksi Kalender Hijriah Indonesia memperkirakan 1 Syawal 1447 H jatuh pada Sabtu, 21 Maret 2026.

Perbedaan ini terjadi karena standar yang berbeda antara Muhammadiyah dengan Pemerintah dalam menetapkan awal bulan.

Muhammadiyah menggunakan prinsip Wujudul Hilal. Di mana, asalkan posisi bulan sudah berada di atas ufuk (lebih dari 0 derajat) saat matahari terbenam. Maka bulan baru dianggap sudah dimulai tanpa perlu menunggu bulan tersebut bisa terlihat secara fisik.

Sebaliknya, Pemerintah Indonesia bersama negara MABIMS menggunakan kriteria yang lebih ketat. Hilal dianggap sah jika sudah cukup tinggi untuk mungkin dilihat (Imkanur Rukyat), yakni memiliki ketinggian minimal 3 derajat dan sudut elongasi 6,4 derajat.

Menurut Peneliti Ahli Utama Pusat Riset Astronomi BRIN, Thomas Djamaluddin, posisi hilal pada petang hari Kamis, 19 Maret 2026, di wilayah Indonesia diprediksi masih sangat rendah.

“Tinggi bulan umumnya kurang dari 3 derajat, dan elongasi juga mencapai 6,4 derajat. Dengan begitu, secara astronomi hilal diperkirakan belum dapat di-rukyat di kawasan Asia Tenggara, termasauk Indonesia,” jelasnya, seperti dikutip dari Kompas, (23/2/2026).

Sebaliknya, menurut Thomas, derajat hilal dan sudut elongasi yang memenuhi kriteria MABIMS justru terlihat di belahan Bumi lain. Seperti Timur Tengah, India, Afrika, Eropa, dan Amerika.

“Dengan demikian, meski secara perhitungan astronomi Idulfitri 1447 H diperkirakan jatuh pada 21 Maret 2026, keputusan final tetap berada pada hasil Sidang Isbat pemerintah, kata Thomas.

Pemerintah melalui Kemenag berencana menggelar Sidang Isbat pada Kamis, 19 Maret 2026 pukul 16.00 WIB. Ini bertepatan dengan tanggal 29 Ramadan 1446 H. Sidang akan memadukan data hisab (perhitungan astronomi) dan rukyatul hilal (pengamatan langsung), sebelum menetapkan secara resmi 1 Syawal 1447 H.

Nantinya, Kemenag akan memantau titik-titik rukyat di seluruh Indonesia. Termasuk beberapa titik pantau di Jawa Timur seperti di Pantai Ngliyep di Kabupaten Malang. Jika petugas di lapangan gagal melihat hilal, maka puasa akan digenapkan menjadi 30 hari. Sehingga 1 Syawal 1447 H akan jatuh pada hari Sabtu, 21 Maret 2026. (mg1/ova)

Exit mobile version