Mahasiswa Perantauan Manfaatkan Buka Gratis di Masjid, Hemat dan Berkah

Mahasiswa saat memasuki masjid di Kota Malang (dok. Mahasiswa Magang Unitri, Akroman)
Mahasiswa saat memasuki masjid di Kota Malang (dok. Mahasiswa Magang Unitri, Akroman)

Kota Malang, blok-a.comRamadan bukan hanya tentang menahan lapar dan dahaga, tetapi bulan suci juga menjadi hal yang seru terutama untuk mahasiswa perantauan yang jauh dari kampung halaman dan orang tua.

Di tengah kesibukan dunia perkuliahan dan keterbatasan biaya hidup, berburu takjil gratis di masjid menjadi kegiatan yang sangat membantu khususnya untuk mahasiswa perantauan yang kuliah di Malang.

Bagi mahasiswa rantau Malang yang tinggal di kos, kegiatan berburu takjil gratis sudah menjadi seperti ritual tahunan yang sayang jika dilewatkan.

Setiap menjelang waktu berbuka, anak kos-kosan atau mahasiswa rantau khususnya, berkeliling mencari masjid, tujuannya sederhana, yaitu berburu takjil di masjid yang menyediakan takjil atau makan gratis untuk berbuka puasa, tidak hanya sekedar menghemat pengeluaran, namun berburu takjil di masjid biasanya menjadi ajang kebersamaan sesama mahasiswa perantauan.

Berburu takjil gratis tentu bukan tanpa alasan, bagi sebagian mahasiswa, menghemat uang saku tentu adalah suatu keharusan, dengan memanfaatkan program buka puasa gratis yang diselenggarakan berbagai masjid, mereka bisa menekan pengeluaran harian, sehingga dana darurat dapat dialokasikan untuk kebutuhan lainnya.

Namun, ada juga yang melakukannya sekadar untuk menambah pengalaman, bahkan sebagai bahan cerita waktu sudah pulang ke kampung halamannya.

Nailur Rahman (22), mahasiswa semester 8 ini, termasuk salah satu di antaranya, Ramadan tahun ini merupakan tahun ke empat menjalani tradisi berburu takjil gratis di kota Malang. Dia selalu mempunyai list masjid mana yang akan disinggahinya saat magrib.

“Setiap bulan Ramadan, saya selalu punya daftar masjid yang wajib dikunjungi,” ujar Nailur saat di ajak ngobrol santai di depan kosannya.

Kota Malang menurutnya ada beberapa masjid yang jadi andalan untuk berburu takjil gratis, yaitu Masjid Nurut Taqwa di Jalan Bunga Dewandaru No. 58, Jatimulyo, Lowokwaru, Kota Malang, dan Masjid Jabal Rohmah di Jl. Mayjen Hariyono, Dinoyo, yang tidak pernah sepi dari jamaah.

Strategi Dapet Takjil Tanpa Perlu Berebut

Ketika ditanya soal strategi biar tidak kehabisan, Nailur senyum-senyum. Dia menyarankan untuk datang tidak mepet dengan azan magrib.

“Intinya datang jangan mepet azan magrib, kalau terlalu sore juga kelamaan nunggunya, biasanya saya atur waktunya pas-pasan tapi masih aman, kebagian takjil, asalkan cari masjid yang ada kuponnya,” katanya.

Dia juga cerita, masjid-masjid yang lokasinya sangat enak buat berburu takjil atau jauh dari keramaian seperti jalan raya, biasanya lebih nyaman dan pasti kebagian karena menyediakan kupon yang bisa di tukar dengan nasi setelah sholat magrib berjamaah.

Jemaah yang sebagian besar mahasiswa perantauan di Malang buka bersama di masjid saat Ramadan (Mahasiswa Magang Unitri, Akroman)
Jemaah yang sebagian besar mahasiswa perantauan di Malang buka bersama di masjid saat Ramadan (Mahasiswa Magang Unitri, Akroman)

“Seperti masjid-masjid di kota Malang di daerah Dinoyo dan Masjid Nurut Taqwa di Jalan Bunga Dewandaru No. 58, Jatimulyo, Lowokwaru, Kota Malang, itu biasanya selalu ramai jamaah, tapi takjilnya tetap ada, kadang malah lebih variatif menunya,” jelasnya.

Bukan Sekadar Cari Gratisan

Buat Nailur, alasan utama berburu takjil memang buat menghemat pengeluaran. “Lumayan lah, buka puasa tidak keluar uang, jadi uangnya bisa disimpen buat ngopi atau buat sahur yang lebih enak,” ungkapnya.

Selain itu, ia juga merasa ada pengalaman seru yang bisa diceritain nanti.

“Kalau udah sukses, kayaknya bakal lucu aja cerita ke teman-teman di rumah, kalau dulu waktu buka puasanya di tanah rantau keliling nyari masjid yang gratisan,” katanya.

Pria asal Madura itu juga mengatakan, kalau berburu takjil di masjid bukan sekadar tentang makan gratis, tapi juga soal kebersamaan, berbagi cerita, dan ngerasain suasana Ramadan yang khas anak kos.

Bagi mahasiswa perantauan seperti Nailur, Ramadhan bukan hanya menahan lapar dan dahaga, namun juga terdapat semangat, kebersamaan, rasa Syukur dan pengalaman yang tidak dapat ditemukan di bulan lain, momen berburu takjil gratis di masjid menjadi cerita yang mungkin sederhana, tetapi justru itulah yang membuat Ramadan di tanah Rantau terasa lebih bermakna.

Penulis : Akroman

Exit mobile version