Legenda Putri Cantik dan Pangeran Ular Raksasa Cikal Bakal Pulau Mengare Gresik

Wilayah Desa Watuagung, Pulau Mengare, Bungah, Gresik.
Wilayah Desa Watuagung, Pulau Mengare, Bungah, Gresik.

Gresik, blok-a.com – Tak hanya kaya akan hasil bumi dan perikanan, Pulau Mengare di Kecamatan Bungah, Kabupaten Gresik, juga menyimpan kisah-kisah legenda yang menjadi bagian dari identitas masyarakat setempat hingga kini.

Terdapat tiga desa di pulau yang terletak di barat daya Kabupaten Gresik ini. Yakni Desa Watuagung, Tanjung Widoro, dan desa Kramat.

Salah satu cerita rakyat yang melegenda yakni asal-usul terbentuknya Desa Watuagung. Diyakini terdapat batu besar yang menjadi cikal bakal dan simbol desa.

Muh Zamrozi, Kepala Desa Watuagung, menjelaskan bahwa legenda ini menjadi salah satu warisan budaya yang diceritakan turun-temurun. Kisah ini bahkan tercatat dalam buku Sang Gresik Bercerita karya Yayasan Mata Seger.

Legenda bermula dari Pangeran Solo, seorang petinggi kerajaan yang jatuh cinta pada Putri Melirang. Dalam perjalanannya melamar sang putri, Pangeran Solo mendapatkan pesan dari ibunya untuk tidak tidur selama perjalanan. Namun, perjalanan panjang ini berujung tragis.

“Perjalanan panjang dan penolakan sang putri membuatnya berubah menjadi seekor ular besar demi mengejar cintanya,” tutur Zamrozi.

Setelah pangeran berubah menjadi ular besar, Putri Melirang hilang tanpa jejak. Pangeran ‘ular’ yang frustrasi akhirnya bertapa di sekitar Laut Jawa. Tubuh ular jelmaannya kemudian diyakini berubah menjadi daratan Pulau Mengare.

“Konon, tubuh ular jelmaan pangeran itu mengeras menjadi daratan yang kini dikenal sebagai Mengare. Kepala ular diyakini berada di Desa Watuagung, badannya di Tanjung Widoro, dan ekornya di Kramat,” ungkap Zamrozi.

Selain menjadi cerita rakyat, legenda ini juga dianggap sebagai simbol kemakmuran. Wilayah Mengare dikenal memiliki hasil pertanian dan perikanan yang melimpah.

Tokoh Mbah Jarat Agung dan Sejarah Pelabuhan Jaratan

Selain cerita tentang asal-usul desa, Mengare juga menyimpan kisah tentang Mbah Jarat Agung, yang diyakini sebagai syahbandar pelabuhan di masa lampau.

Pa’i, seorang pemuda desa yang menjadi pelestari makam Mbah Jarat Agung, menyebutkan bahwa tokoh tersebut terkait erat dengan sejarah Pelabuhan Jaratan, pelabuhan penting pada abad ke-16.

“Berdasarkan kisah tutur, Mbah Jarat adalah syahbandar pelabuhan yang berperan penting dalam perdagangan dunia. Kami sebagai generasi muda sangat bersyukur bila kisah ini dapat dikonfirmasi melalui penelitian lebih lanjut,” ujar Pa’i.

Dalam beberapa catatan sejarah, Pelabuhan Jaratan disebut sebagai salah satu pusat perdagangan utama di Gresik, bersanding dengan Pelabuhan Grissee. Buku Jortan, Kota Pelabuhan yang Hilang karya Eko Jarwanto juga menyinggung keberadaan pelabuhan ini sebagai titik penting dalam perdagangan Nusantara.

Untuk menjaga warisan budaya ini, masyarakat Desa Watuagung secara rutin menggelar kegiatan Ngaji Sejarah, sebuah kajian yang bertujuan menggali jejak Mbah Jarat Agung dan peran Pelabuhan Jaratan di masa lalu.

“Harapan kami, melalui kajian ini, bisa ditemukan fakta yang memperkuat cerita tentang Mbah Jarat Agung dan mengungkap lebih banyak kisah tentang Mengare di masa silam,” tambah Pa’i.

Upaya pelestarian budaya dan kajian sejarah di kawasan ini menjadi bukti nyata bahwa masyarakat setempat terus menjaga warisan leluhur agar tetap hidup di tengah arus modernisasi. Warga setempat berharap generasi mendatang dapat terus menghormati dan belajar dari perjalanan panjang peradaban masa lalu. (ivn/lio)

Baca berita ter-update di Google News Blok-a.com dan saluran Whatsapp Blok-a.com