Kota Malang, blok-a.com – Kedai kopi keliling “Perlu Ngopi” kini menjadi salah satu favorit bagi masyarakat Kota Malang. Kedai ini memiliki konsep yang unik dan praktis, dengan membawakan sensasi ngopi di berbagai lokasi strategis di kota Malang, mulai dari kawasan kampus hingga perumahan.
Dengan kendaraan sepeda elektrik, Perlu Ngopi menawarkan berbagai pilihan menu, mulai dari cappucino dan kopi hitam klasik hingga pilihan modern seperti es kopi susu gula aren.
Tidak hanya itu, terdapat juga menu Cake Series dan minuman non kopi lainnya. Semuanya disajikan dalam wadah berbentuk cup.
Spesialnya lagi, Perlu Ngopi membanderol harga yang ramah kantong. Dengan harga mulai dari Rp10.000 hingga Rp20.000, kopi ini dapat dinikmati oleh banyak orang, terutama mahasiswa.
Saat ini, Perlu Ngopi dapat ditemui di beberapa tempat, mulai dari Taman Krida Budaya, kawasan Universitas Brawijaya hingga Alun-Alun Malang. Pelanggan juga dapat menemukan lokasi hariannya di media sosial Perlu Ngopi yang setiap hari mengumumkan lokasi keliling.
Saat ditemui blok-a.com, salah satu penjual Perlu Ngopi mengatakan bahwa branding kedai kopi keliling ini sudah dari tahun 2023. Pada saat itu hanya berjualan melalui stand-stand di setiap event sebelum berpindah ke kendaraan sepeda elektrik.
“Awal kita branding kopi keliling sebenarnya sudah dari tahun 2023. Hanya saja dulu masih berjualan di stand-stand dan ketika ada event kita masuk,” ucap salah satu penjual kopi keliling Perlu Ngopi, Rabu (04/12/2024).
Setiap hari, ia bisa menjual kopi sebanyak 50-60 cup dengan omzet harian sekitar Rp500 ribu-Rp600 ribu.
“Kalau akhir-akhir bulan ini bisa menjual 50-60 cup, dengan omset sekitar 500 ribu-600 ribu rupiah,” lanjutnya.
Penjual kopi keliling Perlu Ngopi juga mengatakan jika target pasar utama mereka adalah mahasiswa. Walaupun masih ada pelanggan lain seperti pegawai kantor dan juga anak-anak sekolah.
“Untuk target pasar kita lebih menargetkan ke mahasiswa, ya walaupun masih ada seperti orang kantoran dan juga anak-anak sekolah tetapi target utama kita tetap mahasiswa,” pungkasnya.
Penulis: Tegar Putra F (Mahasiswa Magang UTM)




