Blok-a.com – Hari Raya Idulfitri merupakan momen yang ditunggu-tunggu. Di hari yang sakral ini, muslim Indonesia biasa menghabiskan waktunya untuk halal bihalal, bersilaturahmi dengan keluarga besar dan kerabat.
Sayangnya, seringkali suasana akrab ini disertai dengan pertanyaan-pertanyaan yang dapat membuat sebagian orang merasa tidak nyaman, bahkan gelisah, meski orang yang bertanya tidak bertujuan menghakimi atau merendahkan.
Berikut beberapa pertanyaan yang kerap muncul saat Lebaran, beserta saran untuk menjawabnya dengan bijak, dikutip dari berbagai sumber.
1. “Kapan menikah?”
Pertanyaan ini sering menjadi momok bagi mereka yang berstatus single atau sudah punya pasangan, tetapi belum menikah. Kadang dilontarkan sebagai pembuka pembicaraan atau bermaksud perhatian, tetapi juga bisa menimbulkan tekanan.
Psikolog Ratih Ibrahim menyarankan untuk tetap tenang dan tidak terpancing emosi saat menjawab. Anda bisa merespons dengan, “Doakan saja yang terbaik,” atau, “Saya sedang fokus pada karier saat ini.” Jawaban semacam ini menunjukkan bahwa Anda menghargai perhatian mereka tanpa merasa terpojok, dikutip dari Liputan6.
2. “Kapan punya anak?” atau “Kapan nambah momongan?”
Bagi pasangan yang sudah menikah, baik yang belum dikaruniai momongan atau baru memiliki anak tunggal, pertanyaan ini bisa menjadi sensitif. Menanggapi dengan jawaban diplomatis, seperti, “Kami sedang menikmati waktu berdua dulu,”, “Mohon doanya agar segera diberikan keturunan,” atau, “Apa ada rekomendasi promil yang bagus?”, dapat membantu menetralkan suasana.
3. “Kok belum lulus kuliah juga?”
Pertanyaan ini bisa jadi tamparan keras bagi mahasiswa yang sedang berjuang menyelesaikan studinya. Pasalnya, selagi masih bersusah payah sendiri, dia bisa saja merasa bahwa usahanya kurang keras dan tertuntut untuk segera menuntaskan studi. Jika ternyata responsnya negatif, momen silaturahmi bisa jadi tidak kondusif.
Maka dari itu, sebaiknya tetap tenang dalam menyikapi pertanyaan semacam ini. Anda bisa meyakinkan bahwa setiap orang memiliki perjalanan akademis yang berbeda. Gunakan jawaban-jawaban semacam, “Saya sedang fokus menyelesaikan skripsi dengan sebaik mungkin,” atau, “Setiap orang punya timeline masing-masing, mohon doanya agar bisa segera lulus.”
4. “Kerja di mana sekarang?” atau “Kok belum dapat kerja?”
Bagi mereka yang sedang mencari pekerjaan atau bekerja di bidang yang kurang familiar bagi keluarga, pertanyaan ini bisa menimbulkan kecemasan. Menanggapi dengan jujur namun tetap positif, seperti, “Saya sedang dalam proses mencari pekerjaan yang sesuai passion,” atau, “Saat ini saya bekerja freelance yang memungkinkan saya belajar banyak hal baru,” dapat memberikan gambaran tanpa perlu merasa terpojok.
5. “Kok gemukan?” atau “Kok kurusan?”
Komentar tentang perubahan fisik bisa membuat seseorang merasa tidak percaya diri. Menanggapi dengan humor atau mengalihkan pembicaraan dapat menjadi strategi efektif. Misalnya, “Lebaran kan waktunya menikmati makanan enak,” atau, “Mungkin karena efek pakaian yang saya kenakan hari ini.”
6. “Gajinya berapa sekarang?”
Pertanyaan mengenai pendapatan bersifat pribadi dan tidak semua orang nyaman membahasnya. Menjawab dengan sopan namun tegas, seperti, “Alhamdulillah, cukup untuk memenuhi kebutuhan,” atau, “Saya lebih fokus pada pengalaman dan pembelajaran di pekerjaan saya saat ini,” dapat menjaga privasi Anda tanpa menyinggung penanya.
Tips Jawab Pertanyaan Sensitif
Menurut psikolog, Meita Santi Budiani, S.Psi., M.Psi., pertanyaan-pertanyaan tersebut sering kali merupakan bentuk perhatian atau cara memulai percakapan. Cuma memang, kadang membuat penerimanya merasa kurang nyaman.
Lantas ia menyarankan untuk merespons setiap pertanyaan dengan netral dan tidak terbawa emosi. Jika pertanyaan tersebut membuat Anda merasa tidak nyaman, Anda berhak menyampaikan perasaan tersebut dengan sopan, seperti mengatakan, “Maaf, saya kurang nyaman dengan pertanyaan itu.”
Berikut beberapa tips merespons pertanyaan-pertanyaan sensitif seperti di atas.
- Kenali Karakter Penanya: pahami niat dan karakter orang yang bertanya, sehingga Anda bisa merespons dengan tepat.
- Tetap Tenang dan Sopan: menjaga emosi dan menjawab dengan sopan akan membantu mencegah eskalasi situasi.
- Alihkan Pembicaraan: jika merasa tidak nyaman, alihkan topik ke hal lain yang lebih umum.
- Siapkan Jawaban Template: menyiapkan diri dengan jawaban-jawaban diplomatis sebelum menghadiri acara keluarga dapat membantu Anda lebih percaya diri dalam merespons. (gni)




