Barang Dapur yang Jadi Sarang Bakteri, Bukan Tempat Sampah

Blok-a.com – Ketika berbicara tentang barang paling kotor di dapur, sebagian besar dari kita mungkin langsung memikirkan tempat sampah. Namun, ternyata ada satu benda yang jauh lebih kotor dan sering luput dari perhatian, yakni spons cuci piring.

Tanpa disadari, spons cuci piring menjadi sarang miliaran bakteri yang berbahaya bagi kesehatan. Hal ini diungkapkan oleh seorang hypnoteraphist, dokter Fuji, melalui akun TikTok-nya, @tukangservis_hati_drfuji.

“Saya sebagai dokter aja salah jawab. Saya berpikir yang paling kotor adalah tempat sampah, tapi ternyata saya salah dan jawabannya adalah spons cuci piring,” Ungkap dokter Fuji.

Dalam penjelasannya, ia memaparkan bahwa sampel dari spons cuci piring mengandung 362 jenis bakteri dengan jumlah yang sangat besar, mencapai 45 miliar bakteri per cm². Hal ini menunjukkan bahwa spons cuci piring jauh lebih kotor dibandingkan cawan petri di laboratorium, yang sering digunakan untuk menguji pertumbuhan mikroba.

“Sampel yang diambil dari spons cuci piring menyimpan 362 jenis bakteri dalam jumlah yang sangat besar yang jumlahnya itu bisa sampai 45 miliar jumlah bakterinya per cm2,” jelasnya.

Bakteri-bakteri ini, kata dokter Fuji, dapat menyebabkan berbagai infeksi, terutama di saluran pencernaan, dan berpotensi merusak organ ginjal.

“Terus ada scientific result juga, bahwa bakteri yang tumbuh di spons cuci piring contohnya staphylococcus aureus seperti itu bisa mengakibatkan infeksi di saluran cerna dan bahkan bisa mengakibatkan juga kerusakan organ ginjal,” katanya.

Penyebab utama kekotoran spons cuci piring bukan hanya karena sisa makanan yang menempel, tetapi karena spons memiliki banyak pori-pori yang menyediakan tempat ideal bagi bakteri untuk berkembang biak.

“Nah yang bikin dia kotor itu bukan masalah makanan yang nempel di spons ya tapi adalah karena spons itu memiliki banyak sekali pori-pori yang sangat bagus untuk beternaknya bakteri,” sambungnya.

Untuk mengurangi risiko, dokter Fuji menyarankan untuk beralih menggunakan spons dengan pori-pori lebih sedikit, seperti spons yang terbuat dari plastik silikon atau serabut tanaman oyong.

“Akan lebih baik kalau kita menggunakan spons yang dia itu porinya enggak terlalu banyak contohnya adalah spons yang terbuat dari plastik silikon kemudian spons yang terbuat dari serabut tanaman Oyong,” kata dokter Fuji memberi saran.

Namun, jika masih menggunakan spons biasa, penting untuk menggantinya setiap dua minggu sekali untuk mencegah penumpukan bakteri.

“Tapi kalau misalnya kamu masih pakai spon kayak begini Ini harus diganti setiap 2 minggu sekali harus buang ganti baru,” pungkasnya.

Exit mobile version