Blok-a.com – Bulan Ramadan memang penuh berkah. Belum cukup dengan ganjaran berlipat ganda, umat Islam masih bisa menikmati malam Nuzulul Quran dan berpeluang dianugerahi malam Lailatul Qadar. Momen ini sangat ditunggu-tunggu setiap tahunnya, khususnya karena malam tersebut diyakini membawa keberkahan yang lebih baik daripada seribu bulan.
Hal itu seperti sabda Rasulullah yang diriwayatkan oleh Ibnu Majah, seperti dikutip dari laman NU Online.
إِنَّ هَذَا الشَّهْرَ قَدْ حَضَرَكُمْ وَفِيهِ لَيْلَةٌ خَيْرٌ مِنْ أَلْفِ شَهْرٍ مَنْ حُرِمَهَا فَقَدْ حُرِمَ الْخَيْرَ كُلَّهُ وَلاَ يُحْرَمُ خَيْرَهَا إِلَّا مَحْرُومٌ
Artinya: “Sesungguhnya bulan ini (Ramadhan) telah datang kepada kalian. Padanya terdapat satu malam yang lebih baik dari seribu bulan. Siapa saja yang terhalangi darinya, sungguh ia telah terhalangi dari semua kebaikan. Dan tidak ada yang terhalangi (darinya), kecuali orang yang memang terhalangi dari kebaikan)”
Sudah jadi pengetahuan umum di kalangan muslim, bahwa malam Lailatul Qadar disembunyikan waktunya dan tidak terduga di bulan Ramadan. Menurut Ibnu Hajar Al-Atsqalani, sedikitnya ada 45 pendapat yang memprediksi kapan kira-kira jatuhnya Lailatul Qadar.
Kapan Malam Lailatul Qadar Terjadi?
Namun, dari sekian banyak pendapat tersebut, umat muslim, khususnya di Indonesia merujuk pada hadis yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari. Hadis tersebut menerangkan bahwa Rasulullah SAW meningkatkan intensitas ibadahnya pada sepuluh malam terakhir bulan Ramadan.
Bunyi hadis tersebut adalah sebagai berikut:
كَانَ رَسُوْلُ الله إِذَا دَخَلَ العَشْرُ شَدَّ مِئْزَرَهُ وَأَحْيَا لَيْلَهُ، وَأَيْقَظَ أَهْلَهُ
“Bila masuk sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan, Rasulullah shallallahu alaihi wasallam mengencangkan kainnya (menjauhkan diri dari istrinya), menghidupkan malamnya, dan membangunkan keluarganya.” (HR Al-Bukhari)
Selain itu, Rasulullah SAW juga memberikan petunjuk mengenai waktu terjadinya Lailatul Qadar. Masih dalam hadits yang diriwayatkan oleh Al-Bukhari, beliau bersabda:
تَحَرَّوْا لَيْلَةَ الْقَدْرِ فِيْ الْوِتْرِ مِنَ الْعَشْرِ الْأَوَاخِرِ مِنْ رَمَضَانَ
“Carilah malam kemuliaan (Lailatul Qadar) pada malam-malam ganjil di sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan.” (HR Al-Bukhari)
Maka, berdasarkan hadis-hadis tersebut, para ulama menyimpulkan bahwa malam Lailatul Qadar kemungkinan besar terjadi pada malam ganjil pada 10 hari terakhir bulan Ramadan, yakni pada malam ke-21, 23, 25, 27, atau 29.
Ciri-Ciri Orang yang Mendapatkan Lailatul Qadar Menurut Syekh Abdul Qadir Al-Jaeani
Mengingat begitu besarnya anugerah dan kemuliaan yang dijanjikan Allah SWT pada malam Lalatul Qadar, tentu saja umat Islam sangat berharap mendapatkan keberkahannya. Lalu bagaimana ciri-ciri orang yang berhasil mendapatkan keberkahan tersebut? Soal ini, Syekh Abdul Qadir Al-Jilani menyebutkan bahwa orang yang berjumpa dengan Lailatul Qadar akan mendapatkan salam dan jabat tangan dari malaikat Jibril AS.
Beliau menjelaskan dalam kitabnya Al-Ghunyah li Thalibi Thariqil Haqq bahwa ketika malaikat Jibril turun pada malam Lailatul Qadar, ia akan mengucapkan salam kepada manusia dan menjabat tangan mereka.
Lebih lanjut, Syekh Abdul Qadir Al-Jilani menjelaskan beberapa tanda yang dapat dirasakan seseorang yang memperoleh salam dari malaikat Jibril:
- Gemetar Kulit – Tubuhnya merasakan sensasi berbeda, seperti merinding atau gemetar, sebagai tanda keberadaan malaikat.
- Hati yang Lembut – Ia akan merasakan ketenangan, kebijaksanaan, dan kelembutan hati yang luar biasa.
- Air Mata yang Bercucuran – Air mata yang keluar sebagai ungkapan kebahagiaan, rasa syukur, dan ketakwaan kepada Allah SWT.
Karena keutamaan ini, umat Islam dianjurkan untuk memperbanyak doa, ibadah, dan introspeksi diri selama sepuluh malam terakhir Ramadhan, dengan harapan dapat meraih keberkahan Lailatul Qadar. (gni)




