Kota Malang, blok-a.com – Festival film internal SMA Brawijaya Smart School (BSS) kembali digelar dengan semarak dalam sebuah acara tahunan bertajuk Vixxi 4.0 Wiyata Sandhya Astameva. Acara ini menjadi wadah bagi para murid untuk menyalurkan kreativitas mereka melalui film pendek, sebagai bagian dari rangkaian kegiatan Projek Penguatan Profil Pelajar Pancasila (P5).
“Kegiatan ini adalah movie festival internal kami. Event tahunan ini menjadi ruang ekspresi dan apresiasi untuk anak-anak yang berkarya di bidang film pendek,” ujar Ketua Pelaksana, Widyo Nugroho Adi.
Kegiatan ini tidak bersifat ekstrakurikuler, melainkan terintegrasi dalam pembelajaran intrasekolah, khususnya dalam mata pelajaran Bahasa Indonesia dan Seni Budaya.
“Jadi ini bagian dari pembelajaran. Setiap kelas wajib membuat dua film pendek, karena satu kelas dibagi menjadi dua kelompok,” jelasnya.
Secara keseluruhan, terdapat 24 film pendek hasil karya siswa kelas 10 dan 11 yang ditayangkan, dengan tema besar kearifan lokal dan demokrasi. Setiap film berdurasi antara 5 hingga 15 menit, yang digarap hampir selama satu semester, mulai dari tahap penulisan naskah hingga proses pengambilan gambar dan pengeditan.
“Anak-anak mulai penggarapan sejak semester dua. Mereka belajar membuat naskah, mengatur jadwal syuting, mengelola anggaran, hingga mengedit film sendiri. Ini sangat mendidik dari sisi manajemen waktu dan kerjasama,” tambahnya.
Dalam prosesnya, para siswa SMA BSS dibimbing oleh guru Bahasa Indonesia dan Seni Budaya, serta mendapat pendampingan dari alumni yang bekerja di industri perfilman, juga pelatih profesional melalui kerja sama dengan MCC.
Pendanaan kegiatan ini sebagian besar berasal dari swadaya siswa dan sponsor yang mereka cari sendiri, meskipun sekolah tetap memberikan subsidi.
“Kami memang tidak mematok anggaran tinggi. Fokus kami bukan pada kemewahan, tapi pada kualitas karya yang bisa diapresiasi,” ujarnya.
Sekadar informasi, pada tahun sebelumnya, salah satu film karya siswa dalam kegiatan ini berhasil menembus kompetisi tingkat nasional dan meraih juara dua atau tiga.
“Alhamdulillah, tahun kemarin sudah bisa ikut lomba nasional, dan menang. Harapannya tahun ini bisa kembali membawa pulang piala,” ucapnya.
Lebih dari sekadar festival, Fiksi telah menjadi ruang pembelajaran penting bagi siswa. Menurutnya, ini merupakan suatu bekal berharga untuk para siswa di masa mendatang
“Yang paling utama, mereka belajar mengatur waktu, bekerja sama, menyelesaikan konflik, dan bertanggung jawab,” tutupnya. (yog)










