Sambut Nyepi, Umat Hindu di Malang Gelar Tawur Agung Kesanga

Perayaan Tawur Ageng Kesanga diiringi arak-arakan Ogoh-ogoh di Kota Malang (blok-a.com / Yogga Ardiawan)
Perayaan Tawur Ageng Kesanga diiringi arak-arakan Ogoh-ogoh di Kota Malang (blok-a.com / Yogga Ardiawan)

Kota Malang, blok-a.com – Umat Hindu di Kota Malang kembali menggelar Tawur Agung Kesanga sebagai bagian dari rangkaian Hari Raya Nyepi. Ritual sakral ini merupakan bentuk persembahan dan penghormatan kepada alam, serta sarana untuk menetralisir energi negatif yang terkumpul selama setahun terakhir.

Dalam pantauan blok-a.com di lokasi, sebanyak tiga buah Ogoh-Ogoh berukuran besar di arak dari Lapangan Rampal untuk mengelilingi sepanjang Jalan Terusan Kesatrian.

Ketua Parisada Hindu Dharma Indonesia (PHDI) Kota Malang, I Made Wartana, menjelaskan bahwa Tawur Agung Kesanga adalah wujud rasa syukur umat Hindu atas segala berkah yang telah diberikan oleh alam semesta.

Perayaan Tawur Ageng Kesanga diiringi arak-arakan Ogoh-ogoh di Kota Malang (blok-a.com / Yogga Ardiawan)
Perayaan Tawur Ageng Kesanga diiringi arak-arakan Ogoh-ogoh di Kota Malang (blok-a.com / Yogga Ardiawan)

“Tawur itu sebenarnya berarti bayar. Apa yang kami bayar? Selama hidup, kami selalu mendapatkan segala sesuatu dari alam. Nah, sekarang umat Hindu menghaturkan niatnya sebagai wujud terima kasih kami kepada Pencipta yang telah menyediakan alam semesta dengan segala isinya,” ujar I Made Wartana.

Selain itu, Tawur Agung Kesanga juga memiliki makna mendalam dalam menjaga keseimbangan hubungan antara manusia, Tuhan, dan alam semesta, yang dalam ajaran Hindu dikenal sebagai Tri Hita Karana, atau tiga penyebab kebahagiaan.

Dalam ritual ini, ogoh-ogoh sebagai patung simbolis yang melambangkan energi negatif diarak dan kemudian dibakar. Prosesi ini menggambarkan pembersihan diri dan alam dari hal-hal buruk sebelum memasuki Hari Raya Nyepi.

“Mudah-mudahan momen Tawur ini mengingatkan kita untuk menjaga alam semesta, jangan dieksploitasi. Kami juga ingin menetralisir energi negatif selama setahun kemarin, makanya tadi disimbolkan dengan ogoh-ogoh yang nantinya dibakar agar energi negatifnya hilang,” jelasnya.

Setelah prosesi Tawur Agung Kesanga, umat Hindu akan melaksanakan Catur Brata Penyepian, yaitu menjalani Nyepi selama 24 jam dengan empat pantangan utama. Yakni tidak menyalakan api, tidak bepergian, tidak bekerja, dan menghindari hiburan duniawi.

“Besok, kami akan melaksanakan Nyepi dalam keadaan bersih dan suci. Ini juga sesuai dengan tema Nyepi tahun ini, Mandawa Sewa, yaitu pelayanan kepada manusia dan makhluk hidup sebagai wujud pengabdian kita kepada Tuhan Yang Maha Esa untuk menyongsong Indonesia Emas,” tambahnya.

Sementara itu, Anggota DPRD Kota Malang, I Made Riandiana Kartika kegiatan ini menunjukkan indahnya toleransi di Kota Malang. Made sangat mengapresiasi apa yang sudah dilaksanakan oleh panitia ini.

“Kami sangat mengapresiasi kegiatan Tawur Agung Kesanga yang rutin dilaksanakan di Kota Malang. Kami salut dengan panitia yang dengan bijaksana menggeser lokasi acara, yang semula di Balai Kota, kini dilaksanakan di Lapangan Rampal. Ini sebagai bentuk penghormatan kepada saudara-saudara Muslim yang sedang berpuasa,” ujar Made.

Ia juga menambahkan bahwa Kota Malang telah menunjukkan wajah toleransi yang luar biasa, di mana seluruh elemen masyarakat turut hadir dalam perayaan hari-hari besar keagamaan tanpa sekat. Terlebih, perayaan Nyepi kali ini berdekatan dengan perayaan hari besar umat muslim yakni Hari Raya Idul Fitri.

“Inilah indahnya Kota Malang. Pak Dandim hadir, FKUB juga hadir, semua elemen ada di sini. Toleransi di Kota Malang ini sudah selesai, dan itu yang membuat kami bahagia,” lanjutnya.

“Kita harapkan umat Hindu khususnya di Kota Malang untuk sama-sama menghormati dan menghargai saudara-saudara kita yang menjalankan ibadah puasa,” tutupnya. (yog/bob)

Exit mobile version