Kota Malang, blok-a.com – Ratusan pesepeda lipat meramaikan ajang Folding Ngalam Freedom For All yang digelar di Kota Malang, Sabtu (30/8/2025). Berbeda dengan acara gowes biasanya, kegiatan ini dikemas dengan konsep fun rally yang menantang, sekaligus menjadi ajang silaturahmi komunitas sepeda lipat se-Malang Raya.
Ketua penyelenggara, Bagoes Nang Aroem Wibowo, menyebutkan sebanyak 136 peserta dari berbagai kalangan, mulai remaja hingga lansia, ikut serta. Mereka dibagi ke dalam 12 kelompok untuk menempuh rute dengan sistem rally.
“Kalau biasanya fun bike hanya sekadar gowes, kali ini kami ingin ada challenge. Jadi setiap kelompok harus mencari lima checkpoint dengan jarak paling mendekati 17 kilometer. Checkpointnya berupa monumen-monumen pahlawan di Kota Malang,” jelas Bagoes.
Peserta memulai start dari Balai Kota Malang pukul 06.30 WIB dan ditargetkan finish di Mal Pelayanan Publik (MPP) Ramayana paling lambat pukul 09.30 WIB. Setiap kelompok wajib menyalakan aplikasi Strava untuk merekam rute sejauh 17 kilometer, sekaligus menjadi bukti validasi jarak.
Adapun checkpoint yang dipilih kali ini adalah monumen bersejarah, di antaranya Monumen Juang 45 depan Stasiun Kota Baru, Monumen Chairil Anwar di Kayutangan, Monumen Hamid Rusdi di Simpang Balapan, Monumen Pahlawan Trip, serta Monumen Tentara Genie Pelajar di Stadion Gajayana.
“Kami pilih monumen pahlawan karena sekaligus memperingati momen Hari Kemerdekaan. Peserta bebas menentukan rute, yang penting jaraknya mendekati 17 kilometer,” imbuhnya.
Selain rally, di garis finish juga digelar lomba ringan seperti parkir sepeda teratur untuk memeriahkan suasana. Hadiah doorprize turut disediakan agar peserta semakin bersemangat.
Bagoes optimistis potensi Malang sebagai kota ramah pesepeda cukup besar, mengingat tingginya jumlah komunitas sepeda yang ada.
“Insyaallah Malang bisa jadi kota ramah pesepeda. Dari folding bike, road bike, hingga MTB, semuanya banyak di sini. Animonya juga tinggi, bahkan dulu saat Jamselinas terakhir di Malang, pesertanya mencapai 3.500 orang,” ungkapnya.
Ia berharap, kegiatan seperti Folding Ngalam Freedom For All bisa terus berlanjut, tidak hanya sekadar tren sesaat.
“Semoga tidak hanya fomo, tapi bisa rutin dan semakin banyak peminatnya. Karena bersepeda itu sehat, sekaligus guyup bareng teman-teman, bahkan bisa mendongkrak ekonomi lewat event-event besar,” pungkasnya. (yog/lio)




