Kota Malang, blok-a.com – Komunitas seni Kentjing Andjing kembali memperkuat eksistensinya di dunia seni rupa Kota Malang dengan menggelar pameran bertajuk “Indonesia Core”. Pameran ini berlangsung di Baraka & Belantika, Jalan Kaliurang No. 53A, Rampal Celaket, Kecamatan Klojen, Kota Malang, mulai 25 hingga 31 Januari 2025.
Kentjing Andjing yang terbentuk pada tahun 1998 dari Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Sanggar Minat Universitas Negeri Malang, menjadi salah satu pilar utama perkembangan seni rupa di Kota Malang.
Selama 27 tahun berkarya, Kentjing Andjing telah menggelar setidaknya 7 pameran bersama dan 2 proyek kolaborasi.
Indonesia Core menjadi titik awal menuju gelaran pameran yang lebih besar nantinya.
Pameran kali ini melibatkan 8 perupa dengan 11 karya yang beragam, mulai dari seni lukisan, seni grafis, seni kriya hingga mix media art.
Perupa tersebut terdiri dari M. Agus Salim, Purnomo Sigit, Novantri, Wibi Wardhani, Didit Prasetyo Nugroho, dan Dapeng Gembiras. Selain itu, ada dua seniman muda asal Universitas Machung yaitu Alicia Michelle, dan Annisa Fadila yang turut berkolaborasi dalam menjaga relevansi seni kontemporer di Malang.
Tema Indonesia Core dipilih sebagai refleksi atas fenomena dan tingkah laku masyarakat di media sosial.
Novantri Sumahadi, salah satu perupa di pameran ini, mengatakan jika tema tersebut adalah cara untuk merayakan keunikan yang terjadi di dunia digital.

“Indonesia Core kan terjadi di dunia sosmed dan tingkah laku orang-orang kan sangat menarik dan kita rayakan aja. Jadi dari situ menjadi inspirasi ke lakon-lakon yang ada di setiap karya,” kata Novan, Sabtu (25/1/2025)
Pria yang juga vokalis band Tani Maju ini menjelaskan ada berbagai rangkaian kegiatan yang juga turut mewarnai pameran ini. Di tanggal 28 Januari ada Diskusi Seni dengan tema “Color Dialogue: Eksplorasi Teknis dan Narasi dalam Dinamika Visual Seni Rupa” oleh Berdikari Space X Kentjing Andjing.
“Jadi kebetulan ada di Malang namanya Berdikari Space, mereka sering membuat diskusi seni rupa. Nah daripada saya bikin diskusi sendiri, saya ajak mereka untuk kolaborasi untuk diskusi bareng. Siapa tahu antara yang tua sama yang muda bisa saling bertukar info yang baik,” tuturnya.
Selain itu, di tanggal 30 Januari ada Lokakarya Seni berupa Cyanotype Screen Printed oleh seniman bernama Ilyas Badnews.

Novan berharap, ke depan Kentjing Andjing dapat terus menggelar berbagai pameran, sehingga mampu meninggalkan jejak yang bermakna di dunia seni rupa.
“Kalau anjing kencing kan masalah teritorialnya, baunya ya, jadi ketika pipis itu, pasti meninggalkan jejak. Nah Kentjing Andjing maunya seperti itu, jadi ketika pameran di sini, kita meninggalkan jejak apa disini. Nah itu yang ingin dilakukan di kelompok kencing anjing,” harap Novan. (ber)




