Kota Malang, blok-a.com – Suasana di Latar Ijen Resto, Kota Malang, terasa berbeda. Puluhan komunitas pecinta alam berkumpul dengan penuh antusias, bukan sekadar untuk berbincang soal petualangan, tetapi juga menyerap kisah dari seorang legenda hidup. Di hadapan mereka, berdiri sosok yang tak asing di dunia pendakian, Jukardi Adrian, atau yang lebih dikenal sebagai Abah Bongkeng.
Acara ini merupakan bagian dari EIGERIAN MALANG, forum pertama di Indonesia yang digagas oleh Eiger Tropical Adventure. Lebih dari sekadar pertemuan, ini adalah awal dari wadah baru bagi pegiat kegiatan alam terbuka di Malang dan sekitarnya. Arif Rachman Husen, Community & Partnership Manager Eiger Tropical Adventure, mengungkapkan bahwa forum ini diharapkan dapat menjadi ruang berbagi dan bersinergi bagi para pencinta alam.
“Forum Eigerian yang pertama di Indonesia, yakni EIGERIAN MALANG, diresmikan dengan tujuan untuk menjadi forum silaturahmi pegiat kegiatan alam terbuka serta pengguna produk EIGER. Kami berharap wadah atau forum ini bisa menyalurkan hobi dan kegiatan positif secara bersama-sama,” ujar Arif.
Sementara EIGER berkomitmen melanjutkan aktivasi forum serupa di berbagai kota, malam itu adalah momen istimewa bagi komunitas Malang. Terlebih dengan kehadiran Abah Bongkeng, yang meski telah berusia 74 tahun, tetap aktif mendaki dan berbagi ilmu kepada generasi muda.
“Alam selalu mengundang bahaya dan mengandung bahaya, urusan persiapan perjalanan, etika dalam berkegiatan di alam terbuka, dan terpenting adalah memastikan bahwa kegiatan kita tidak meninggalkan jejak apapun di alam. Memastikan kita menerapkan Zero Waste Adventure, atau petualangan bebas sampah,” pesan Abah Bongkeng.
Pria yang sudah menaklukkan berbagai gunung di Indonesia sejak tahun 1973 itu pun berbagi rahasia bagaimana tetap eksis di dunia pendakian.
“Gunung favorit di Indonesia sudah saya daki. Kalau biar eksis, ya kalau buat saya harus tetap berbekal pengetahuan tentang teknik hidup,” katanya.
Baginya, mendaki bukan hanya soal menaklukkan puncak, tetapi juga memahami alam dan risikonya.
“Banyak hal yang bisa mengancam keselamatan jiwa kita. Objek datangnya dari alam dan subjek akan datang dari kecelakaan. Jadi tetap harus berbekal pengetahuan, tahu medan dari alam gimana,” ucapnya. (yog)









