Kota Malang, blok-a.com – Satu hari sebelum konser-nya digelar, Anto Baret menyapa media dan publik lewat konferensi pers di Kopi Tot Tot, Kayutangan, Kota Malang, Jumat (25/7/2025).
Konser bertajuk Sambang Sambung Sketsa Jalanan yang akan digelar Sabtu (26/7/2025) di Gedung Kesenian Gajayana akan menjadi ruang perjumpaan lintas generasi, komunitas, hingga keresahan sosial yang dibungkus dalam karya musik.
Konferensi pers dibuka hangat, jauh dari kesan formal. Anto Baret, pendiri Kelompok Penyanyi Jalanan (KPJ), memulai dengan cerita di balik albumnya yang akan dibawakan di konser.
Album itu berjudul Sketsa Jalanan, yang disebutnya lahir dari proses panjang, bahkan sejak tahun 1978. Isinya adalah lagu-lagu lama tentang kritik sosial, suara pinggiran, dan kegelisahan personal yang masih relevan di masa sekarang.
“Semua lagu di album ini punya kesan, tapi kalau disuruh milih, ya ‘Ayah Ibu’ itu paling emosional,” kata Anto Baret.
Lagu “Ayah Ibu” ditulisnya dari pengalaman pribadi, ketika sang ayah memanggilnya selepas Maghrib dan menyampaikan harapan agar Anto menjadi sarjana. Momen itulah yang kemudian membekas dalam bentuk syair yang penuh makna.
Selain “Ayah Ibu”, lagu “Sajak Orang-Orang Penganggur”, yang ditulisnya saat kuliah di ATN sekitar tahun 1978 juga menjadi lagu yang emosional. Liriknya yang masih relevan menyuarakan keresahan generasi muda terhadap sistem yang timpang, koneksi yang menentukan kerja, dan realita hidup di lorong-lorong gelap kota.
Sejumlah musisi yang terlibat di album ini juga hadir. Mereka di antaranya Mike dan Bob Marjinal, Tege Dreads, Toto Towel, dan Yose Kristian. Masing-masing menyampaikan kesan mendalam tentang sosok Anto Baret dan proses kolaboratif yang dijalani.
Bob bercerita tentang bagaimana awalnya ia dan tim dipercaya untuk mengaransemen tiga lagu. Sempat tak percaya diri, ia bahkan ragu-ragu saat akan mengirim hasil aransemen itu ke Anto.
“Gue bilang ke Mike, ‘Bismillah aja lah, kirim.’ Eh, Om Anto jawab: ‘Lanjut!’ Itu langsung bikin kami semangat,” kata Bob.
Tapi di balik keceriaan itu, Bob menyebut bahwa album ini membawa tantangan berat. Banyak dari lirik-lirik Anto Baret yang ditulis tahun 1979 sampai awal 80-an, tapi isinya masih relevan sampai sekarang.
“Ini jadi teguran buat kita, anak-anak muda. Kalau orang seperti Om Anto Baret aja masih bisa berkarya dan menyuarakan kegelisahannya, masa kita enggak?” ucap Bob.
Senada dengan Bob, Mike mengatakan proyek ini sebagai perjalanan yang berat. Meski Anto Baret memberi kebebasan penuh, justru di situlah letak tantangannya: tak ada aturan baku, tapi tetap harus menemukan benang merah.
“Ini memang ngawur, dalam arti bebas dan jujur, tapi tetap harus bertanggung jawab. Harus ada pegangan yang kita temukan sendiri di dalam prosesnya,” ucapnya.
Mike menyebut bahwa mengaransemen lagu-lagu Anto Baret bukan perkara teknis, tapi soal bagaimana menghormati kearifan yang lahir dari perjalanan panjang seorang guru jalanan.
“Lirik-lirik Om Anto itu bukan lirik karangan asal. Itu syair dari pengalaman hidup yang sangat panjang. Jadi tantangannya bukan sekadar bikin aransemen, tapi bagaimana kita bisa menjaga dan merawat makna yang sudah dibangun dari tahun-tahun lampau,” ujar Mike.
Lebih dari sekadar kolaborasi musik, Mike melihat proses ini sebagai ruang komunikasi antar-generasi. Bagaimana lagu-lagu yang ditulis puluhan tahun lalu, kini bisa menjadi jembatan bagi generasi baru untuk memahami realitas sosial dengan lebih utuh.
“Ini bukan sekadar proyek album. Ini panggilan. Dan kami menangkap betul kekuatan, ketulusan, dan kepercayaan dari Om Anto. Itu yang bikin kami terus semangat,” katanya.
Mike berharap konser dan album Sketsa Jalanan bisa menjadi pengingat bahwa musik jalanan bukan hanya soal panggung kecil dan suara lantang, tapi juga tentang merawat nilai-nilai kemanusiaan, persaudaraan, dan keberanian untuk tetap jujur. (ber/bob)




