Kota Malang, blok-a.com – Tukang sayur keliling masih menjadi denyut kehidupan di kampung-kampung Kota Malang. Dengan sepeda motor dan gerobak penuh sayuran serta ikan, mereka berkeliling dari gang ke gang, membangunkan para ibu rumah tangga dengan teriakan khas, “Sayur, Ikan, Belanja.” Dalam hitungan menit, warga langsung berkumpul untuk memilih kebutuhan dapur.
Negosiasi harga kerap terjadi, meski tak jarang transaksi berlangsung cepat. Salah satunya dialami Yadi (25), warga Muharto, yang sejak 2021 menekuni profesi sebagai tukang sayur keliling. Ia memanfaatkan motor lamanya untuk berjualan di kawasan Kampung Peltu Sujono, Kelurahan Ciptomulyo.
“Alhamdulillah sudah empat tahun jualan kayak gini,” ujar Yadi, Jumat (15/8/2025).
Rutinitas Yadi dimulai sejak dini hari. Pukul 02.00 ia sudah bersiap menuju Pasar Kedungkandang untuk membeli dagangan, lalu selepas subuh langsung berkeliling kampung. “Berangkat jam dua pagi. Prepare, setelah solat subuh berangkat kesini,” tambahnya.
Profesi ini ternyata dijalani hampir seluruh anggota keluarganya. “Bapak, kakak, adik jualan kayak gini semua. Tapi ya beda tempat, kalau sama ya gimana mas,” ungkap Yadi.
Dari hasil jualannya, Yadi bisa meraup keuntungan rata-rata Rp150 ribu per hari. Meski begitu, risiko kerugian tetap ada, terutama saat ikan atau sayuran tak habis terjual.
“Namanya jualan gak mesti mas. Kalau ikan gak habis ya harus habis. Tapi kalau sudah dipaksa gak bisa habis ya mau gimana lagi,” ujarnya.
Bagi warga, keberadaan tukang sayur keliling membawa kemudahan. Tri (55), salah satu pelanggan, mengaku terbantu karena tak perlu repot ke pasar.
“Tinggal tunggu depan gang, tidak perlu ke pasar,” katanya.
Ia pun menilai harga yang ditawarkan tidak jauh berbeda dengan pasar. “Enggak sih kalau harga ya. Saya sendiri juga terbantu tidak perlu bangun pagi,” jelas Tri. (yog)




