Kota Malang, blok-a.com – Kota Malang tak hanya dikenal dengan keindahan alam dan sejarah kotanya, namun juga dengan warisan kuliner legendaris, salah satunya adalah Siropen Leo. Sirop yang telah hadir selama 77 tahun ini merupakan produk lokal yang masih diproduksi secara tradisional di Kota Malang.
Siropen Leo pertama kali diracik pada tahun 1948 oleh Tjan Ing Tjhan, sang pendiri generasi pertama. Pabrik rumahan ini kini berlokasi di Jalan Brigjen Katamso, Kecamatan Klojen, setelah sebelumnya berada di kawasan Jalan Zaenal Zakse hingga sekitar tahun 1980.
Saat ini, Siropen Leo dikelola oleh generasi keempat, Daniel Hartono, yang tetap menjaga resep asli dari leluhurnya, yaitu menggunakan gula pasir tebu murni tanpa tambahan pemanis buatan.
“Dahulu kalau tidak salah, tempat produksi atau pabriknya itu berada di kawasan sekitaran Jalan Zaenal Zakse. Lalu sekitar tahun 1980, pindah ke Jalan Brigjen Katamso sampai sekarang,” ungkap Daniel.
Daniel menjelaskan, di masa awal berdirinya, Siropen Leo hanya memiliki tiga varian rasa, yaitu rose, leci, dan cocopandan. Kini, inovasi terus dilakukan hingga tersedia 11 pilihan rasa, seperti blewah, lemon squash, coffee mocca, leci putih, leci hijau, rosen, frambozen, aardbeien (strawberry), cocopandan, melon, dan anggur.
“Usaha sirop ini terus kami kembangkan. Dan kini total sudah ada 11 varian rasa,” jelasnya.
Keunikan Siropen Leo tak hanya terletak pada resepnya yang klasik, namun juga proses produksinya yang tetap menggunakan metode tradisional. Seluruh tahapan dilakukan secara manual, mulai dari pemasakan, pengisian ke botol, hingga pelabelan.
Gula pasir tebu, air, dan bahan lainnya dimasak hingga larut sempurna, kemudian disaring dan didinginkan sebelum ditambahkan perasa dan pewarna, lalu dikemas dalam botol kaca. Daniel menambahkan bahwa pendinginan menjadi proses yang paling memakan waktu.
“Selanjutnya diberi perasa dan warna lalu dimasukkan ke dalam kemasan botol. Dari sekian proses itu, yang paling lama ya proses pendinginannya,” ujarnya.
Menariknya, kuali yang digunakan untuk memasak sirop masih mempertahankan kuali asli yang digunakan sejak pertama kali produksi di tahun 1948.
“Kuali ini sejak awal ada sampai sekarang kita pakai. Kalau awal buat, nunggu lama harus nunggu panas. Kalau prosesnya ya 24 jam lah sampai pengemasan,” tambahnya.
Siropen Leo telah memiliki pasar tersendiri, terutama di Kota Malang yang menjadi basis penjualan utama di toko-toko lokal. Namun, sirop ini juga dikirim ke berbagai kota lain seperti Semarang, Solo, Bandung, bahkan hingga Bali.
“Selain dalam kota, kami juga mengirimkannya ke luar kota. Karena beberapa konsumen ada yang tinggal di Semarang, Solo, Bandung bahkan Bali,” tutur Daniel.
Saat Ramadan, permintaan sirop ini melonjak drastis hingga tiga kali lipat. Dari biasanya memproduksi 1.000 botol per hari, produksi meningkat menjadi 3.000 botol setiap harinya selama bulan suci.
“Meningkatnya 300 persen. Biasanya kan 1.000 botol per hari, sekarang sampai 3.000 botol per hari,” pungkasnya. (yog)










