Kota Malang, blok-a.com – Mahasiswi semester akhir Universitas Islam Malang (Unisma) Nelis Adelti memanfaatkan bulan suci Ramadan ini dengan menjual takjil berupa aneka ragam minuman es.
Dia menjual minuman es itu di depan kampusnya, Jalan MT Haryono, Kelurahan Dinoyo, Kecamatan Lowokwaru, Kota Malang.
Bersama teman-temannya, dia menjual es itu khusus di bulan suci Ramadan ini.
“Kita mulai jualan ini pas bulan suci Ramadan, dan baru beberapa hari ikut jualan ini,” jelasnya kepada blok-a.com, Kamis (13/3/2025).
Guru di Kabupaten Malang Manfaatkan Ramadan dengan Jualan Takjil
Dia mengatakan, aneka es yang dijualnya ini bervariasi. Setiap hari pun berganti. Tujuannya supaya pembeli tidak bosan merasakan es yang dijualnya sebagai takjil.
“Kita jualan es terus es-nya tiap hari ganti varian rasa. Jadi orang nggak bosan,” kata dia.
Varian rasanya pun bermacam-macam. Ada coklat, mangga, lemon tea, bubble gum, dan rasa-rasa lainnya yang berganti setiap harinya.
Semua es untuk takjil itu diraciknya dengan teman-temannya sendiri yang juga mahasiswi Unisma.
“Kita racik sendiri, nggak pakai saset, kita pakai bubuk asli terus diracik sendiri,” tambahnya.
Untuk memulai usaha takjil ini, Nelis mengatakan, modalnya dari iuran bersama teman-temannya. Totalnya Rp 2,7 juta.

“Itu sudah termasuk semua perlengkapan jualan, kayak meja, cup, sama bahan-bahan kayak teh, gula, dan bubuk minumannya,” kata dia.
Karena kreatifitasnya yang tiap hari mengganti rasa, pendapatannya pun cukup menggiurkan. Dalam sehari dia bisa meraup keuntungan hingga Rp 1 juta lebih. Setiap harinya kurang lebih 100 cup dibeli oleh pemburu takjil.
“Keuntungan biasanya dari satu juta, kadang bisa Rp 1,2 juta, atau Rp 1,3 juta. Pernah juga Rp 1,5 juta paling banyak,” tambahnya.
Untuk memikat pembeli, Nelis memiliki strategi tersendiri. Dia selalu ramah, dan memberikan pelayanan ekstra. Bahkan saat hujan turun, tak jarang teman-temannya atau Nelis memayungi pembeli.
“Strategi jualan kita beda dari penjual es lainnya. Kita promosi dari mulut ke mulut, terus nyapa pembeli dengan ramah. Karena musim hujan kita juga sering payungin pembeli biar nyaman. Intinya lebih perhatian ke pembeli biar mereka balik lagi,” tuturnya.
Pembelinya pun beragam. Mulai dari masyarakat umum, dan yang paling mendominasi adalah mahasiswa yang sedang berburu takjil.
“Yang beli tuh campur, ada mahasiswa, ibu-ibu, anak-anak, kadang juga bapak-bapak,” tutupnya.
Penulis: Mahasiswa Magang Unitri, Olivia Yasinta Mantut









