Kota Malang, blok-a.com – Sejumlah pedagang ketupat di Pasar Besar Kota Malang, Jawa Timur, mengalami penurunan omset drastis setelah Lebaran 2025. Sepinya pembeli membuat mereka kesulitan menjual dagangannya, bahkan beberapa pedagang harus membuang ketupat yang sudah tidak layak konsumsi.
Iin, salah satu pedagang ketupat di Pasar Besar Malang, mengungkapkan bahwa penjualan turun jauh dibandingkan sebelum Lebaran. Jika sebelumnya ia mampu menjual hingga 3.000 ketupat per hari, kini ia hanya membawa stok 300 biji per hari dan tidak selalu habis terjual.
“Kondisi pasar sangat sepi sejak Lebaran, penjualan turun jauh dibandingkan sebelum Lebaran,” kata Iin.
Untuk menghindari kerugian, Iin mencoba mengukus ulang ketupat yang tersisa agar bisa dijual kembali keesokan harinya. Namun, metode ini hanya bisa mempertahankan ketupat selama dua hari. Jika tetap tidak terjual, ia harus membuangnya.
“Cara mengawetkannya dengan dikukus lagi, tapi hanya bertahan dua hari. Kalau dalam dua hari tidak habis, terpaksa dibuang. Daripada membuat pelanggan kecewa, saya lebih ikhlas membuangnya,” ujarnya.
Keluhan serupa datang dari Siti Aminah, pedagang ketupat lainnya, yang menyebutkan bahwa omsetnya turun lebih dari 50 persen dibandingkan tahun lalu. Ketupat yang ia buat tiga hari lalu pun masih belum laku terjual.
“Ketupat yang saya buat tiga hari lalu saja belum laku, sudah layu seperti ini,” kata Siti Aminah.
Pada Lebaran tahun 2024 lalu, Siti bisa memperoleh keuntungan sekitar Rp250.000 per hari. Namun, tahun ini, penghasilannya turun drastis menjadi hanya Rp100.000 per hari. Ia meyakini bahwa daya beli masyarakat melemah akibat kondisi ekonomi yang sulit, ditambah dengan harga bahan pangan yang semakin mahal.
“Pasar sepi, ekonomi sedang sulit. Banyak pedagang yang mengeluh, apalagi harga bahan pangan sekarang mahal,” pungkasnya. (yog/bob)




