Kabupaten Malang, blok-a.com – Seorang petani jeruk di Dusun Klandungan, Landungsari, Kecamatan Dau, Kabupaten Malang, Hugo berbagi pengalaman dan tantangan dalam bertani jeruk Madu di kebunnya yang seluas 2400 meter persegi.
Dengan hampir 10 tahun menjadi petani jeruk dan sekitar 250 pohon jeruk ia mampu menghasilkan sekitar 24 ton setiap tahunnya.
Meskipun begitu, Hugo mengungkapkan, perubahan cuaca sangat berdampak, apalagi kalau buahnya sudah besar dan tiba-tiba hujan biasanya buahnya ada lalat atau hama dan bisa jatuh sendiri.
“Kalau belum ada buahnya kemungkinan tidak ada dampak,” tambah dia.
“Biasanya saat musim hujan pertumbuhan buah sering terganggu, untuk mengatasi hal itu harus menggunakan obat atau pupuk setiap 10 hingga 15 hari tergantung cuaca untuk menjaga kesehatan tanaman,” kata dia.
“Sementara itu, kalau di sini setelah panen langsung ada yang ngambil untuk di kirim langsung ke Kalimantan,” kata dia.
Hugo juga menjelaskan kalau yang ditanamnya hanya jeruk madu karena perawatannya lebih mudah dan cepat cocok dengan obat, sedangkan jeruk siam memerlukan percobaan dan pencarian obat sebelum bisa langsung digunakan.
Tak hanya itu, kendala utama dalam pemeliharaan juga ketersediaan air yang masih terbatas.
“Meskipun mendapatkan bantuan pupuk dari pemerintah, jumlahnya masih sedikit, jika hanya mengandalkan bantuan, kasihan pohonnya karena tidak akan berbuah,” jelasnya.
Untuk saat ini harga jeruk ada yang Rp 14 ribu, kalau sudah panen raya biasanya Rp 9 ribu per kilonya.
“Saya berharap ke depan ada perbaikan harga jeruk di pasar agar lebih menguntungkan bagi para petani,” tutupnya.
Penulis : Mahasiswa Magang, Akroman




