Banyuwangi, blok-a.com – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Banyuwangi meluncurkan program Gerakan Banyuwangi Berbagi sebagai salah satu upaya percepatan penanganan kemiskinan.
Program ini melibatkan berbagai pihak, mulai dari Pemkab, TNI, Polri, instansi vertikal, BUMN, BUMD, organisasi profesi, hingga pengusaha, untuk memberikan bantuan kepada warga pra-sejahtera.
Bupati Banyuwangi, Ipuk Fiestiandani, menjelaskan bahwa program ini mengusung konsep gotong royong untuk memastikan penanganan kemiskinan berjalan lebih cepat dan tepat sasaran.
“Dengan bergotong royong kami yakin, penanganan kemiskinan di Banyuwangi akan lebih cepat dan lebih tepat sasaran,” tegas Ipuk, Kamis (23/1/2025).
Program ini menggunakan pendekatan data kemiskinan berbasis nama dan alamat (by name by address). Hal ini memungkinkan semua pihak yang terlibat memiliki sasaran yang jelas dan terkoordinasi.
“Semua pihak yang terlibat dalam Gerakan Banyuwangi Berbagi ini akan mendapatkan sasaran masing-masing yang ada pada data. Semua dibagi habis. Jadi, tidak ada yang terlewat atau disalurkan sembarangan,” jelas Ipuk.
Gerakan Banyuwangi Berbagi menyasar sekitar 18 ribu warga pra-sejahtera yang akan menerima bantuan berupa paket sembako.
Selain itu, kondisi keluarga penerima bantuan akan dievaluasi secara menyeluruh, mencakup aspek sosial, kesehatan, dan akses pendidikan.
“Berbagai perkembangan tersebut akan dipantau melalui aplikasi Smart Kampung. Dengan data yang realtime ini, kita bisa melakukan penanganan secara lebih tepat dan terukur,” tambah Ipuk.
Program ini dirancang untuk tiga bulan ke depan, sebelum bantuan sosial dari pemerintah turun.
“Meskipun angka kemiskinan di Banyuwangi saat ini tercatat paling rendah sepanjang sejarah, yaitu 6,54 persen berdasarkan data BPS per 2024, Pemkab akan terus berupaya menekan angka kemiskinan secara serius dan sistematis,” tandasnya.(kur/lio)









