Masuk Periode Pemilu, OJK Optimis Industri Keuangan 2023 Makin Kuat dan Stabil

keuangan ojk
Ketua Dewan Komisioner OJK Mahendra Siregar dalam Pertemuan Tahunan Industri Jasa Keuangan 2023, Senin (6/2/2023).(YouTube OJK)

blok-a.com – Otoritas Jasa Keuangan (OJK) optimis industri keuangan akan semakin menguat di 2023. Lebih lagi, periode pemilihan umum (pemilu) serentak 2024 sudah mulai bergelora tahun ini.

Ketua Dewan Komisioner OJK Mahendra Siregar mengungkapkan bahwa konsumsi domestik yang menjadi menjadi salah satu pendorong perekonomian akan semakin meningkat pada siklus politik lima tahunan.

Menurutnya, pesta demokrasi akbar akan banyak berpengaruh pada pertumbuhan sektor ekonomi. Seperti makanan hasil pertanian, mesin dan transportasi, industri tekstil dan produk tekstil (TPT), kertas dan percetakan, serta makanan dan minuman olahan.

“Tahun ini, siklus politik lima tahunan juga dimulai. Belajar dari periode lalu, akselerasi pertumbuhan konsumsi masyarakat dan aktivitas industri akan meningkat, khususnya industri padat karya seperti makanan-minuman, tekstil produk tekstil (TPT), percetakan serta transportasi,” ujar Mahendra Siregar dalam Pertemuan Tahunan Industri Jasa Keuangan 2023, Senin (6/2/2023).

Menurutnya, berkaca dari pengalaman, meski kondisi politik bergejolak, keamanan nasional masih terjaga dengan baik. Ia menerangkan, Indonesia akan mengokohkan diri menjadi Negara Demokrasi Presidensial Terbesar di dunia.

Tercatat persentase jumlah penduduk negara Demokrasi Presidensial Pemilih paling banyak di Indonesia, yakni sebesar 275 Juta atau 81.97 persen. Diikuti Amerika Serikat sebesar 336 juta dan Brasil 216 juta.

“Kali ini, Indonesia akan makin mengokohkan dirinya menjadi Negara Demokrasi Presidensial Terbesar di dunia. Indonesia seng ada lawan!,” tutur Mahendra.

Lebih jauh, Mahendra menjelaskan sebagian besar risiko transmisi perlambatan pertumbuhan ekonomi global sudah dapat dimitigasi dengan tepat.

Diketahui tingginya optimisme terhadap industri keuangan tercermin dari kredit perbankan dan piutang pembiayaan tumbuh 11,4% dan 14,2%. Angka ini kata dia, lebih tinggi dari rata-rata 5 tahun sebelum pandemi sebesar 8,9% dan 4,4%.

Berdasarkan hal itu, dia memproyeksikan kredit perbankan akan tumbuh sebesar 10% sampai 12%, didukung pertumbuhan Dana Pihak Ketiga (DPK) sebesar 7% sampai 9%.

Sementara di Industri keuangan non bank (IKNB), piutang pembiayaan Perusahaan Pembiayaan diproyeksikan tumbuh 13% sampai 15%.

“Oleh karena itu, kami mengajak kita semua untuk tidak ragu-ragu terhadap penguatan perekonomian, stabilitas keuangan, serta perbaikan iklim dan kesempatan investasi di Indonesia. Investasi langsung maupun investasi portofolio dalam dan luar negeri terus meningkat,” tandas Mahendra.

Tingginya optimisme terhadap prospek perekonomian nasional tercermin dari perkembangan pasar modal yang mencatatkan penambahan 71 emiten tahun lalu, tertinggi sepanjang sejarah. Kredit perbankan dan piutang pembiayaan tumbuh 11,4% dan 14,2%. Lebih tinggi dari rerata 5 tahun sebelum pandemi sebesar 8,9% dan 4,4%.

Sementara untuk asuransi dan reasuransi tercatat tumbuh sebesar 13,9% mencapai Rp 119 triliun.

Kondisi ini juga didukung oleh menurunnya kredit restrukturisasi Covid-19 yang signifikan menjadi sebesar Rp 469,2 triliun dari puncaknya sebesar Rp 830 triliun pada Oktober 2020. 

Tahun ini, kredit perbankan diproyeksikan tumbuh sebesar 10% sampai 12%, didukung pertumbuhan Dana Pihak Ketiga sebesar 7- 9%. 19.Di pasar modal, nilai emisi ditargetkan sebesar Rp 200 triliun.

Sementara, Perusahaan Pembiayaan diproyeksikan tumbuh 13% sampai 15%. Aset asuransi diperkirakan tumbuh sebesar 5% sampai 7% di tengah program reformasi yang dilakukan OJK. Aset Dana Pensiun diperkirakan juga tumbuh 5% sampai 7%.(lio)

Baca berita ter-update di Google News Blok-a.com dan saluran Whatsapp Blok-a.com